Jumat, 15 Januari 2016

MOTIVASI BELAJAR



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kebutuhan dasar paling penting di sekolah adalah kebutuhan akan kasih sayang dan harga diri. Siswa yang tidak memiliki perasaan bahwa mereka dicintai dan mereka mampu, kecil kemungkinannya memiliki motivasi belajar yang kuat untuk mencapai perkembangan ke tingkatnya yang lebih tinggi. Sebagai misal, pencarian pengetahuan dan pemahaman atas upaya mereka sendiri atau kreativitas dan keterbukaan untuk ide-ide baru yang merupakan karakteristik orang-orang yang mencapai aktualisasi diri.
Siswa yang tidak yakin bahwa mereka dapat dicintai atau tidak yakin dengan kemampuannya sendiri akan cenderung untuk membuat pilihan yang aman yaitu bergabung dengan kelompoknya, belajar karena akan tes tanpa ada minat mengembangkan ide-ide, bersekolah agar tidak dimarahi oleh orang tua, dan bersekolah hanya karena takut tidak mendapatkan uang saku, atau bersekolah agar dapat berkumpul dengan teman-temannya 
Guru yang berhasil membuat siswa merasa senang dan membuat mereka merasa diterima dan dihormati sebagai individu, lebih besar peluangnya untuk membantu mereka menjadi bersemangat untuk belajar demi pembelajaran dan bersedia berkorban untuk menjadi kreatif dan terbuka terhadap ide-ide baru. Apabila siswa dikehendaki menjadi pelajar yang madiri, mereka harus yakin bahwa guru mereka akan merespon secara adil dan konsisten kepada mereka, dan mereka tidak akan ditertawakan atau dihukum karena murni berbuat kekeliruan. Untuk itu, pentinglah bagi guru untuk memahami siswanya dan memberikan motivasi yang baik dan posistif bagi siswa-siswanya.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1.        Apa yang dimaksud dengan motivasi ?
2.        Bagaimana teori-teori motivasi ?
3.        Faktor-faktor apa yang mempengaruhi motivasi belajar ?
4.        Bagaimana cara peningkatan motivasi belajar ?

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Motivasi
Motivasi menurut Sumadi Suryabrata adalah keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna pencapaian suatu tujuan.[1] Sementara itu Gates mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mengatur tindakannya dengan cara tertentu.[2] Adapun Greenberg menyebutkan bahwa motivasi adalah proses membangkitkan, mengarahkan, dan memantapkan perilaku arah tujuan.[3]
Menurut kebanyakan defenisi, motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu menggerakkan, mengarahkan, dan menopang tingkah laku manusia. Adapun ketiga hal tersebut, dijelaskan sebagai berikut:
1.      Menggerakkan berarti menimbulkan kekuatan pada individu, memimpin seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu.
2.      Motivasi juga mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku. Dengan demikian ia menyediakan suatu orientasi tujuan. Tingkah laku individu diarahkan terhadap sesuatu
3.   Untuk menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah dorongan-dorongan serta kekuatan-kekuatan individu.
Berdasarkan pemaparan di atas mengenai defenisi motivasi maka dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah suatu dorongan yang terdapat dalam diri siswa yang selalu berusaha atau berjuang untuk meningkatkan atau memelihara kemampuannya setinggi mungkin dalam semua aktivitas dengan menggunakan standar keunggulan.
B.       Teori-teori Motivasi
a.         Teori Hedonisme
Kata hedone berasal dari bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan, atau kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran di dalam filsafat yang memandang bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan yang bersifat diniawi.[4] Implikasi dari teori ini adalah adanya anggapan bahwa semua orang akan cenderung menghindari hal-hal yang sulit dan menyusahkan, atau yang mengandung resiko berat, dan lebih suka melakukan sesuatu yang mendatangkan kesenangan baginya.
Siswa di suatu kelas merasa gembira dan bertepuk tangan mendengar pengumuman dari kepala sekolah bahwa guru matematika mereka tidak mengajar karena sakit. Menurut teori hedonisme para siswa tersebut harus diberi motivasi secara tepat agar tidak malas dan mau belajar dengan baik, dengan memenuhi kesenangannya.
b.        Teori Naluri
Pada dasarnya manusia memiliki tiga naluri yang mendorong manusia dalam bertindak dan berbuat, yaitu:
a)      Naluri mempertahankan diri
b)      Naluri mengembangkan diri
c)      Naluri mengmbangkan dan mempertahankan jenis.[5]
Dengan dimilikinya ketiga naluri pokok itu, maka kebiasaan-kebiasaan ataupun tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia yang diperbuatnya sehari-hari mendapat dorongan atau digerakkan oleh ketiga naluri tersebut. Oleh karena itu, menurut teori ini, untuk memotivasi seseorang harus berdasarkan naluri mana yang akan dituju dan perlu dikembangkan.
c.         Teori Reaksi yang Dipelajari
Teori ini berpandangan bahwa tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan naluri-naluri, tetapi berdasarkan pola-pola tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan di tempat orang itu hidup. Orang belajar paling banyak dari lingkungan kebudayaan di tempat ia hidup dan dibesarkan. Oleh karena itu, teori ini disebut juga teori lingkungan kebudayaan. Menurut teori ini, apabila seseorang ingin dimotivasi hendaknya mengetahui benar-benar latar belakang kehidupan dan kebudayaannya. Dengan mengetahui latar belakang kebudayaan seseorang kita dapat mengetahui pola tingkah lakunya dan dapat memahami pula mengapa ia bereaksi atau bersikap yang mungkin berbeda dengan orang lain dalam menghadapi suatu masalah.
d.        Teori Daya Pendorong
Teori ini merupakan perpaduan antara teori naluri dengan teori reaksi yang dipelajari. Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Misalnya, suatu daya pendorong pada jenis kelamin yang berbeda. Semua orang dalam semua kebudayaan mempunyai daya pendorong pada jenis kelamin yang berbeda. Namun cara-cara yang digunakan dalam mengejar kepuasan terhadap daya pendorong tersebut berlainan bagi masing-masing individu menurut latar belakang kebudayaan masing-masing.
e.         Teori Kebutuhan
Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis. Oleh karena itu, menurut teori ini, apabila seseorang pendidik bermaksud memberikan motivasi kepada seseorang, ia harus berusaha mengetahui terlebih dahulu apa kebutuhan-kebutuhan orang yang akan dimotivasinya.
Abraham Maslow merupakan seorang pakar psikologi yang mendukung teori ini. Maslow mengemukakan adanya lima tingkatan kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkatan kebutuhan pokok inilah yang kemudian dijadikan pengertian kunci dalam mempelajari motivasi manusia. Adapun kelima tingkatan kebutuhan pokok tersebut yaitu:
1.      Kebutuhan fisiologis. Kebutuhan ini adalah kebutuhan dasar yang bersifat primer dan vital yang menyangkut fungsi-fungsi biologis dasar dari organisme manusia seperti kebutuhan akan pangan, sandang dan papan, kesehatan fisik, kebutuhan seks, dst.
2.      Kebutuhan rasa aman dan perlindungan. Kebutuhan ini meliputi terjaminnya keamanan, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit, perang, kemiskinan, kelaparan, perlakukan tidak adil, dsb.
3.      Kebutuhan Sosial yang meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, dsb.
4.      Kebutuhan akan penghargaan, termasuk dihargai karena prestasi, kemampuan, kedudukan, dan pangkat.
5.      Kebutuhan akan aktualisasi diri, antara lain kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara maksimum, kreatifitas dan ekspresi diri.
C.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi
a.         Cita-cita atau Aspirasi Siswa
Motivasi belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil seperti keinginan belajar berjalan, makan makanan yang lezat, berebut permainan, dapat membaca, menyanyi, dan lainnya. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan kemauan bergiat, bahkan dikemudian hari menimbulkan cita-cita dalam kehidupannya. Keinginan yang terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar.[6]
b.        Kemampuan Siswa
Keinginan seorang anak dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan untuk mencapainya. Anak yang pada awalnya tidak mengetahui atau kurang mampu dalam bidang tertentu, yang kemudian dilatih sampai bisa, akhirnya akan merasa puas akan keberhasilannya. Keberhasilan tersebut memuaskan dan menyenangkan hatinya. Secara perlahan-lahan terjadilah kegemaran anak tersebut terhadap bidang tersebut. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
c.         Kondisi Siswa
Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar. Seorang siswa yang sakit, lapar, atau marah akan mengganggu perhatian belajar. Sebaliknya siswa yang sehat jasmani dan rohani akan senang mengikuti pelajaran.
d.        Kondisi Lingkungan Siswa
Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya, dankehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Bencana alam, tempat tinggal yang kumuh, ancaman rekan yang nakal, perkelahian antar siswa akan mengganggu kesungguhan belajar. Untuk itu dibutuhkan lingkungan yang aman, tenteram, tertib dan indah, maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
e.         Upaya Guru dalam Membelajarkan Siswa
Guru adalah pendidik yang berkembang. Tugas profesionalnya mengaharuskan dia belajar sepanjang hayat. Hal ini penting karena guru menjadi inspirasi dan teladan bagi siswa. Guru disekolah menghadapi banyak siswa dengan bermacam-macam motivasi belajar. Oleh karena itu peran guru cukup banyak untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk itu diperlukan peran yang besar dan optimal dari guru dalam mengatur pembelajaran yang baik dan benar bagi siswa, agar siswa dapat merasa senang sehingga termotivasi untuk belajar lebih giat.
D.      Peningkatan Motivasi Belajar
Dari beberapa teori motivasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi, kita mengetahui bahwa motivasi merupakan pendorong bagi perbuatan seseorang. Motivasi menyangkut soal mengapa seseorang berbuat demikian. Untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut, mungkin kita harus mencari pada apa yang mendorongnya (dari dalam) dan pada perangsang atau stimulus (dari luar) yang menariknya untuk melakukan perbuatan tersebut.
Untuk mengembangkan motivasi yang baik pada anak didik kita, disamping kita harus menjauhkan saran-saran atau sugesti yang negatif  yang bersifat asosial dan dursila, yang lebih penting lagi adalah membina pribadi anak didik agar dalam diri anak terbentuk motif-motif yang mulia, luhur, dan dapat diterima masyarakat. Untuk itu, berbagai usaha dapat kita lakukan seperti menyediakan situasi-situasi dilingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah yang memungkinkan timbulnya persaingan atau kompetisi yang sehat. Membangkitkan kompetisi dengan jalan menimbulkan perasaan puas terhadap hasil-hasil dan prestasi yang telah mereka capai, betapapun kecil atau sedikitnya hasil yang dicapai itu.
Membiasakan anak didik mendiskusikan suatu pendapat atau cita-cita mereka masing-masing dapat pula memperkuat motivasi yang baik pada diri mereka. Tunjukkan pada mereka dikehidupan sehari-hari dalam masyarakat bahwa tercapainya suatu tujuan atau maksud sangat bergantung pada motivasi apa yang mendorongnya untuk mencapai tujuan atau maksud tersebut.

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.        Motivasi belajar adalah suatu dorongan yang terdapat dalam diri siswa yang selalu berusaha atau berjuang untuk meningkatkan atau memelihara kemampuannya setinggi mungkin dalam semua aktivitas dengan menggunakan standar keunggulan.
2.        Teori-teori motivasi terdiri dari: 1) teori hedonisme, 2) teori naluri, 3) teori reaksi yang dipelajari, 4) Teori pendorong, 5) teori kebutuhan.
3.        Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu: 1) cita-cita atau aspirasi siswa, 2) Kemampuan siswa, 3) Kondisi siswa, 4) Kondisi lingkungan siswa, 5) Upaya guru dalam membelajarkan siswa.
4.        Motivasi menyangkut soal mengapa seseorang berbuat demikian. Untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut, mungkin kita harus mencari pada apa yang mendorongnya (dari dalam) dan pada perangsang atau stimulus (dari luar) yang menariknya untuk melakukan perbuatan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA


Djaali, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2007

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2010

Ngalim purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011

12
 
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rajawali, 1984


[1] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan,  (Jakarta: Rajawali, 1984), h. 70
[2] Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 101
[3] Ibid.
[4] Ngalim purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 74
[5] Ibid., h. 75
[6] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 97

0 komentar:

Posting Komentar

 
;