PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kebutuhan
dasar paling penting di sekolah adalah kebutuhan akan kasih sayang dan harga
diri. Siswa yang tidak memiliki perasaan bahwa mereka dicintai dan mereka
mampu, kecil kemungkinannya memiliki motivasi belajar yang kuat untuk mencapai
perkembangan ke tingkatnya yang lebih tinggi. Sebagai misal, pencarian
pengetahuan dan pemahaman atas upaya mereka sendiri atau kreativitas dan
keterbukaan untuk ide-ide baru yang merupakan karakteristik orang-orang yang
mencapai aktualisasi diri.
Siswa
yang tidak yakin bahwa mereka dapat dicintai atau tidak yakin dengan
kemampuannya sendiri akan cenderung untuk membuat pilihan yang aman yaitu
bergabung dengan kelompoknya, belajar karena akan tes tanpa ada minat
mengembangkan ide-ide, bersekolah agar tidak dimarahi oleh orang tua, dan
bersekolah hanya karena takut tidak mendapatkan uang saku, atau bersekolah agar
dapat berkumpul dengan teman-temannya
Guru yang berhasil membuat siswa
merasa senang dan membuat mereka merasa diterima dan dihormati sebagai individu,
lebih besar peluangnya untuk membantu mereka menjadi bersemangat untuk belajar
demi pembelajaran dan bersedia berkorban untuk menjadi kreatif dan terbuka
terhadap ide-ide baru. Apabila siswa dikehendaki menjadi pelajar yang madiri,
mereka harus yakin bahwa guru mereka akan merespon secara adil dan konsisten
kepada mereka, dan mereka tidak akan ditertawakan atau dihukum karena murni
berbuat kekeliruan. Untuk itu, pentinglah bagi guru untuk memahami siswanya dan
memberikan motivasi yang baik dan posistif bagi siswa-siswanya.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1.
Apa
yang dimaksud dengan motivasi ?
2.
Bagaimana
teori-teori motivasi ?
3.
Faktor-faktor
apa yang mempengaruhi motivasi belajar ?
4.
Bagaimana
cara peningkatan motivasi belajar ?
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Motivasi
Motivasi
menurut Sumadi Suryabrata adalah keadaan yang terdapat dalam diri seseorang
yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna pencapaian suatu
tujuan.[1]
Sementara itu Gates mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu kondisi fisiologis
dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mengatur tindakannya
dengan cara tertentu.[2]
Adapun Greenberg menyebutkan bahwa motivasi adalah proses membangkitkan, mengarahkan,
dan memantapkan perilaku arah tujuan.[3]
Menurut
kebanyakan defenisi, motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu
menggerakkan, mengarahkan, dan menopang tingkah laku manusia. Adapun ketiga hal
tersebut, dijelaskan sebagai berikut:
1.
Menggerakkan
berarti menimbulkan kekuatan pada individu, memimpin seseorang untuk bertindak
dengan cara tertentu.
2.
Motivasi
juga mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku. Dengan demikian ia menyediakan
suatu orientasi tujuan. Tingkah laku individu diarahkan terhadap sesuatu
3. Untuk menjaga dan menopang tingkah
laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah dorongan-dorongan
serta kekuatan-kekuatan individu.
Berdasarkan
pemaparan di atas mengenai defenisi motivasi maka dapat disimpulkan bahwa
motivasi belajar adalah suatu dorongan yang terdapat dalam diri siswa yang
selalu berusaha atau berjuang untuk meningkatkan atau memelihara kemampuannya
setinggi mungkin dalam semua aktivitas dengan menggunakan standar keunggulan.
B.
Teori-teori Motivasi
a.
Teori
Hedonisme
Kata hedone berasal dari bahasa Yunani yang berarti kesukaan,
kesenangan, atau kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran di dalam filsafat
yang memandang bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari
kesenangan yang bersifat diniawi.[4] Implikasi
dari teori ini adalah adanya anggapan bahwa semua orang akan cenderung
menghindari hal-hal yang sulit dan menyusahkan, atau yang mengandung resiko
berat, dan lebih suka melakukan sesuatu yang mendatangkan kesenangan baginya.
Siswa di suatu kelas merasa gembira dan bertepuk tangan mendengar
pengumuman dari kepala sekolah bahwa guru matematika mereka tidak mengajar
karena sakit. Menurut teori hedonisme para siswa tersebut harus diberi motivasi
secara tepat agar tidak malas dan mau belajar dengan baik, dengan memenuhi
kesenangannya.
b.
Teori
Naluri
Pada
dasarnya manusia memiliki tiga naluri yang mendorong manusia dalam bertindak
dan berbuat, yaitu:
a)
Naluri
mempertahankan diri
b)
Naluri
mengembangkan diri
c)
Naluri
mengmbangkan dan mempertahankan jenis.[5]
Dengan
dimilikinya ketiga naluri pokok itu, maka kebiasaan-kebiasaan ataupun
tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia yang diperbuatnya sehari-hari
mendapat dorongan atau digerakkan oleh ketiga naluri tersebut. Oleh karena itu,
menurut teori ini, untuk memotivasi seseorang harus berdasarkan naluri mana
yang akan dituju dan perlu dikembangkan.
c.
Teori
Reaksi yang Dipelajari
Teori
ini berpandangan bahwa tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan
naluri-naluri, tetapi berdasarkan pola-pola tingkah laku yang dipelajari dari
kebudayaan di tempat orang itu hidup. Orang belajar paling banyak dari
lingkungan kebudayaan di tempat ia hidup dan dibesarkan. Oleh karena itu, teori
ini disebut juga teori lingkungan kebudayaan. Menurut teori ini, apabila
seseorang ingin dimotivasi hendaknya mengetahui benar-benar latar belakang
kehidupan dan kebudayaannya. Dengan mengetahui latar belakang kebudayaan
seseorang kita dapat mengetahui pola tingkah lakunya dan dapat memahami pula
mengapa ia bereaksi atau bersikap yang mungkin berbeda dengan orang lain dalam
menghadapi suatu masalah.
d.
Teori
Daya Pendorong
Teori
ini merupakan perpaduan antara teori naluri dengan teori reaksi yang
dipelajari. Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya suatu dorongan
kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Misalnya, suatu daya
pendorong pada jenis kelamin yang berbeda. Semua orang dalam semua kebudayaan
mempunyai daya pendorong pada jenis kelamin yang berbeda. Namun cara-cara yang
digunakan dalam mengejar kepuasan terhadap daya pendorong tersebut berlainan
bagi masing-masing individu menurut latar belakang kebudayaan masing-masing.
e.
Teori
Kebutuhan
Teori
ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya
adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan
psikis. Oleh karena itu, menurut teori ini, apabila seseorang pendidik
bermaksud memberikan motivasi kepada seseorang, ia harus berusaha mengetahui
terlebih dahulu apa kebutuhan-kebutuhan orang yang akan dimotivasinya.
Abraham
Maslow merupakan seorang pakar psikologi yang mendukung teori ini. Maslow
mengemukakan adanya lima tingkatan kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkatan
kebutuhan pokok inilah yang kemudian dijadikan pengertian kunci dalam
mempelajari motivasi manusia. Adapun kelima tingkatan kebutuhan pokok tersebut
yaitu:
1.
Kebutuhan
fisiologis. Kebutuhan ini adalah kebutuhan dasar yang bersifat primer dan vital
yang menyangkut fungsi-fungsi biologis dasar dari organisme manusia seperti
kebutuhan akan pangan, sandang dan papan, kesehatan fisik, kebutuhan seks, dst.
2.
Kebutuhan
rasa aman dan perlindungan. Kebutuhan ini meliputi terjaminnya keamanan,
terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit, perang, kemiskinan, kelaparan,
perlakukan tidak adil, dsb.
3.
Kebutuhan
Sosial yang meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan
sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, dsb.
4.
Kebutuhan
akan penghargaan, termasuk dihargai karena prestasi, kemampuan, kedudukan, dan
pangkat.
5.
Kebutuhan
akan aktualisasi diri, antara lain kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yang
dimiliki, pengembangan diri secara maksimum, kreatifitas dan ekspresi diri.
C.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi
a.
Cita-cita
atau Aspirasi Siswa
Motivasi
belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil seperti keinginan belajar
berjalan, makan makanan yang lezat, berebut permainan, dapat membaca, menyanyi,
dan lainnya. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan kemauan
bergiat, bahkan dikemudian hari menimbulkan cita-cita dalam kehidupannya.
Keinginan yang terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar.[6]
b.
Kemampuan
Siswa
Keinginan
seorang anak dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan untuk mencapainya. Anak
yang pada awalnya tidak mengetahui atau kurang mampu dalam bidang tertentu,
yang kemudian dilatih sampai bisa, akhirnya akan merasa puas akan
keberhasilannya. Keberhasilan tersebut memuaskan dan menyenangkan hatinya.
Secara perlahan-lahan terjadilah kegemaran anak tersebut terhadap bidang
tersebut. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kemampuan akan memperkuat
motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
c.
Kondisi
Siswa
Kondisi
siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar.
Seorang siswa yang sakit, lapar, atau marah akan mengganggu perhatian belajar.
Sebaliknya siswa yang sehat jasmani dan rohani akan senang mengikuti pelajaran.
d.
Kondisi
Lingkungan Siswa
Lingkungan
siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya,
dankehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat maka siswa dapat
terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Bencana alam, tempat tinggal yang kumuh,
ancaman rekan yang nakal, perkelahian antar siswa akan mengganggu kesungguhan
belajar. Untuk itu dibutuhkan lingkungan yang aman, tenteram, tertib dan indah,
maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
e.
Upaya
Guru dalam Membelajarkan Siswa
Guru
adalah pendidik yang berkembang. Tugas profesionalnya mengaharuskan dia belajar
sepanjang hayat. Hal ini penting karena guru menjadi inspirasi dan teladan bagi
siswa. Guru disekolah menghadapi banyak siswa dengan bermacam-macam motivasi
belajar. Oleh karena itu peran guru cukup banyak untuk meningkatkan hasil
belajar siswa. Untuk itu diperlukan peran yang besar dan optimal dari guru
dalam mengatur pembelajaran yang baik dan benar bagi siswa, agar siswa dapat
merasa senang sehingga termotivasi untuk belajar lebih giat.
D.
Peningkatan Motivasi Belajar
Dari
beberapa teori motivasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi, kita
mengetahui bahwa motivasi merupakan pendorong bagi perbuatan seseorang.
Motivasi menyangkut soal mengapa seseorang berbuat demikian. Untuk mencari
jawaban pertanyaan tersebut, mungkin kita harus mencari pada apa yang
mendorongnya (dari dalam) dan pada perangsang atau stimulus (dari luar) yang
menariknya untuk melakukan perbuatan tersebut.
Untuk
mengembangkan motivasi yang baik pada anak didik kita, disamping kita harus
menjauhkan saran-saran atau sugesti yang negatif yang bersifat asosial dan dursila, yang lebih
penting lagi adalah membina pribadi anak didik agar dalam diri anak terbentuk
motif-motif yang mulia, luhur, dan dapat diterima masyarakat. Untuk itu,
berbagai usaha dapat kita lakukan seperti menyediakan situasi-situasi
dilingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah yang memungkinkan timbulnya
persaingan atau kompetisi yang sehat. Membangkitkan kompetisi dengan jalan
menimbulkan perasaan puas terhadap hasil-hasil dan prestasi yang telah mereka
capai, betapapun kecil atau sedikitnya hasil yang dicapai itu.
Membiasakan
anak didik mendiskusikan suatu pendapat atau cita-cita mereka masing-masing
dapat pula memperkuat motivasi yang baik pada diri mereka. Tunjukkan pada
mereka dikehidupan sehari-hari dalam masyarakat bahwa tercapainya suatu tujuan
atau maksud sangat bergantung pada motivasi apa yang mendorongnya untuk
mencapai tujuan atau maksud tersebut.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1.
Motivasi
belajar adalah suatu dorongan yang terdapat dalam diri siswa yang selalu
berusaha atau berjuang untuk meningkatkan atau memelihara kemampuannya setinggi
mungkin dalam semua aktivitas dengan menggunakan standar keunggulan.
2.
Teori-teori
motivasi terdiri dari: 1) teori hedonisme, 2) teori naluri, 3) teori reaksi yang
dipelajari, 4) Teori pendorong, 5) teori kebutuhan.
3.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu: 1) cita-cita atau aspirasi siswa, 2)
Kemampuan siswa, 3) Kondisi siswa, 4) Kondisi lingkungan siswa, 5) Upaya guru
dalam membelajarkan siswa.
4.
Motivasi
menyangkut soal mengapa seseorang berbuat demikian. Untuk mencari jawaban
pertanyaan tersebut, mungkin kita harus mencari pada apa yang mendorongnya
(dari dalam) dan pada perangsang atau stimulus (dari luar) yang menariknya
untuk melakukan perbuatan tersebut.
Djaali, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2007
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta:
Rineka Cipta, 2010
Ngalim purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2011
|
[1]
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali, 1984), h. 70
[2]
Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 101
[3]
Ibid.
[4]
Ngalim purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2011), h. 74
[5]
Ibid., h. 75
[6]
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta,
2010), h. 97

0 komentar:
Posting Komentar