HADIS TENTANG MENJAWAB SALAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menjaga lidah bukanlah perkara mudah lidah memang
daging tak bertulang, namun apa yang keluar dari mulut bisa diambil atau
dikembalikan lagi. Baik itu perkataan baik atau pun buruk bila telah
terlontarkan dari lidah, tak akan ada yang dapat mengambilnya kembali. Syariat
Islam sangat memperhatikan hal ini karena itulah ada adab dan etika berbicara
dalam Islam. Baik adalah muatan pembicaraanya itu mengajak kepada sesuatu yang
baik dan harus dengan hikmah atau kebijaksanaan yang baik pula. Sehingga adab
sopan santun juga perlu diperhatikan seorang muslim dalam manajemen bicara
harus dapat mengendalikan lisan. Sehingga dalam Islam sangatlah
menjaga tentang ucapan mengucapkan kata kafir terhadap orang lain.
Sehingga
dalam makalah ini, penulis mengambil tema etika dalam berbicara (Hukum Mengkafirkan) yang lebih bersifat kontekstual dengan menjadikan anjuran menjawab
salam sebagai sub tema yang akan menjadi fokus pembahasan sekaligus melakukan
penelitian hadis terkait dengan menggunakan metode takhrij dan i’tibăr
dalam rangka mengetahui periwayat dan kualitas hadis dari segi sanad maupun
matannya.
B. Rumusan Masalah
1.
Siapa yang meriwayatkan hadis tersebut?
2.
Bagaimana kandungan hadis tersebut?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Takhrij Hadis
Pelaksanaan takhrij dilakukan dengan metode takhrij bi
al-lafzh, dengan menggunakan kata احدهم . Menurut petunjuk kamus
hadis, al-Mu’jam,[1]
potongan matan hadis: يَا
كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا terdapat dalam: Shahîh al-Bukhărî, kitab al-Madzălim, no.
6104, bab; man akfarho akhahu bii ghoiri ta’wilii fa huwa kamaa khola, Shahîh
Muslim, no. 111, bab; bayyina halaa imanan man khola liakhihi muslim
yaa kafiru, Musnad Ahmad, no. 4687, Jld. 4, dan Muwattho Malik dalam kitab
Aklamu wal iyanati wattaqho no 1844
Berikut ini dikemukakan secara lengkap teks hadis tersebut dalam
riwayat para mukharrij:
1.
Dalam Shahîh al-Bukhărî terdapat dua jalur sanad:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ
حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا[2]
2.
Dalam Shahîh Muslim terdapat dua
jalur sanad
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ وَعَبْدُ
اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَنْ
نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا
كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا[3]
3.
Dalam Musnad Ahmad terdapat satu jalur sanad:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ فُضَيْلِ
بْنِ غَزْوَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا رَجُلٍ كَفَّرَ رَجُلًا
فَأَحَدُهُمَا كَافِرٌ[4]
4. Dalam Musnad Muwattho
حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ لِأَخِيهِ كَافِرٌ
فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا
Dari teks hadis tersebut,
tampak memiliki jalur sanad yang cukup bervariasi, baik nama periwayat yang
menyampaikan riwayat itu kepada para mukharrij, juga lambang atau shighat
tahammul yang digunakan. Dengan begitu , maka sangat wajar apabila diadakan
kritik sanad, terutama bagi mereka yang menggunakan lambang عن (mu’an’anah).
Sebab penggunaan lambang mu’an’anah itu, pada dasarnya sanadnya tidak
bersambung, kecuali periwayat yang menggunakan lambang itu berstatus sebagai tsiqah
(‘ădil dan dhăbith). Karena, ulama menyatakan bahwa periwayat
yang tsiqah itu tidak mungkin berbohong dalam ucapannya. Uraian sanad
dari berbagai jalur sanad yang ada akan tampak dalam uraian i’tibăr
sanad.
B.
I’tibăr Sanad
Pada I’tibăr[5]
sanad ini akan diuraikan setiap jalur sanad yang ada dalam satu bagan
(skema sanad), dan dari situ akan tampak masing-masing lambang periwayatan yang
digunakan oleh periwayat. Selain itu, akan jelas juga ada atau tidak adanya mutăbi[6]
(pendukung) bagi periwayat yang dikritik oleh ulama tentang ke-tsiqah-annya,
sehingga riwayat yang disampaikan oleh periwayat bersangkutan dapat meningkat
derajatnya.
SKEMA SANAD
HADIS
MAAF BU' DE' SKEMA NDAK BISA MUNCUL
C.
Penelitian
sanad dan matan hadis dari segi kualitas
1.
Penelitian
sanad
Pada penelitian sanad
ini, penulis memilih hadis yang melalui jalur Ahmad, dengan susunan sanad sebagai berikut:
a. Ahmad bin Hanbal
Nama: Â Ahmad bin
Muhamad bin Hanbal bin Hilal bin Asad
bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin 'Auf bin Qasithi bin Marin bin Syaiban bin Dzuhl bin
Tsa'labah bin Uqbah bin Sha'ab bin Ali
bin Bakar bin Wail.
Kuniyah: Abu Abdillah
Nasab beliau: Bapak dan ibu
beliau adalah orang arab, keduanya anak Syaiban bin Dzuhl bin Tsa'labah, seorang arab asli. Bahkan nasab
beliau bertemu dengan Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam di Nazar.
Kelahiran beliau:
Imam Ahmad dilahirkan di kota Baghdad. Ada yang
berpendapat bahwa di Marwa, kemudian di bawa ke Baghdad ketika beliau
masih dalam penyusuan. Hari lahir beliau
pada tanggal dua puluh Rabi'ul awwal tahun
164 hijriah.
Ayah Imam Ahmad
dan kakeknya meninggal ketika beliau
lahir, sehingga semenjak kecil ia hanya mendapatkan pengawasan dan kasih
sayang ibunya saja. Jadi, beliau tidak
hanya sama dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam dalam masalah nasab saja, akan tetapi beliau juga sama dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah
yatim.
Meskipun imam
Ahmad tidak mewaritsi harta dari ayah dan
kakeknya, tetapi beliau telah mewaritsi dari kakeknya kemulian nasab
dan kedudukan, sedang dari ayahnya telah
mewaritsi kecintaan terhadap jihad dan
keberanian. Ayah beliau, Muhammad bin Hambal menemui ajalnya ketika
sedang berada di medan jihad, sedang
kakeknya, Hambal bin Hilal adalah seorang
penguasa daerah Sarkhas, pada saat kekhilafahan Umawiyyah.
Aktifitas beliau dalam menimba ilmu
Permulaan imam
Ahmad dalam rangka menuntut ilmu pada
tahun 179 Â hijriah, pada saat itu beliau berusia empat belas
tahu, beliau menuturkan tentang dirinya;
' ketika aku masih anak-anak, aku modar-mandir menghadiri sekolah menulis, kemudian aku bolak-balik datang
keperpustakaan  ketika aku berumur
empat belas tahun.'
Beliau
mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu, kota Bagdad telah menjadi pusat peradaban
dunia Islam, yang penuh dengan beragam
jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari', ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.
Setamatnya
menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu
bahasa Arab di al-Kuttab saat berumur 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus
menuntut ilmu dengan penuh semangat yang
tinggi dan tidak mudah putus asa.
Keteguhan dalam
mencari ilmu telah mengantarkan imam Ahmad menjadi ulama besar dan disegani, baik dari kalangan
masyarakat awwam, terpelajar maupun dari
kalangan penguasa. Dalam rihlah ilmiyyah yang beliau jalani, ada satu
pelajaran yang patut kita conth, setiap
kali bekalnya habis, beliau selalu mendermakan
dirinya untuk bekerja guna melanjutkan perjalanannya. Ia tidak mau
menerima uang ataupun materi lainnya selain
dari hasil kerja keras dan hasil keringatnya
sendiri.
Rihlah beliau
Kecintaannya
kepada ilmu begitu luar biasa. Karenanya,
setiap kali mendengar ada ulama terkenal di suatu tempat, ia rela
menempuh perjalanan jauh dan waktu lama
hanya untuk menimba ilmu dari sang ulama. Kecintaan kepada ilmu jua yang menjadikan beliau rela tak
menikah dalam usia muda. Beliau baru menikah setelah usia 40 tahun.
diantara negri
yang beliau kunjungi adalah:
1.
Bashrah; beliau
kunjungi pada tahun 186 hijriah, kedua kalinya
beliau mengunjungi pada tahun 190 hijriah, yang ketiga beliau kunjungi
pada tahun 194 hijriah, dan yang keempat
beliau mengunjungi pada tahun 200 hijriah.
2.
Kufah; beliau
mengunjunginya pada tahun 183 hijriah, dan keluar darinya pada tahun yang sama, dan ini
merupakan rihlah beliau yang pertama kali
setelah keluar dari Baghdad.
3.
Makkah; beliau
memasukinya pada tahun 187 hijriah, di sana berjumpa dengan imam Syafi'i. kemudian beliau mengunjunginya lagi
pada tahun 196 hijriah, dan beliau juga
pernah tinggal di Makkah pada tahun 197, pada tahun itu bertemu dengan Abdurrazzaq. Kemudian pada tahun 199 hijriah
beliau keluar dari Makkah.
4.
Yaman; beliau
meninggalkan Makkah menuju Yaman dengan
berjalan kaki pada tahun 199 hijriah. Tinggal di depan pintu Ibrahim bin
'Uqail selama dua hari dan dapat menulis
hadits dari Adurrazzaq.
5.
Tharsus;
Abdullah menceritakan; ' ayahku keluar menuju
Tharsus dengan berjalan kaki.
6.
Wasith; Imam
Ahmad menuturkan tentang perjalanan beliau;
' aku pernah tinggal di tempat Yahya bin Sa'id Al Qaththan, kemudian
keluar menuju Wasith.'
7.
Ar Riqqah; Imam
Ahmad menuturkan; 'Di Riqqah aku tidak
menemukan seseorang yang lebih utama ketimbang Fayyadl bin Muhammad bin
Sinan.'
8.
Ibadan; beliau
mengunjunginya pada tahun 186 hijriah, di
sana tinggal Abu Ar Rabi' dan beliau dapat menulis hadits darinya.
9.
Mesir; beliau
berjanji kepada imam Syafi'I untuk
mengunjunginya di Mesir, akan tetapi dirham tidak menopangnya
mengunjungi imam Syafi'I di sana.
Guru-guru beliau
Semenjak kecil imam Ahmad memulai untuk
belajar, banyak sekali guru-guru beliau,
diantaranya;
1.
Husyaim bin Basyir,
imam Ahmad berguru kepadanya selama lima
tahun di kota Baghdad.
2.
Sufyan bin Uyainah
3.
Ibrahim
bin Sa'ad
4.
Yahya bin Sa'id al Qaththân
5.
Walîd
bin Muslim
6.
Ismail bin 'Ulaiyah
7.
Al Imam
Asy Syafi'i
8.
Al Qadli Abu
Yusuf
9.
Ali bin Hasyim
bin al Barid
10.
Mu'tamar bin
Sulaiman
11.
Waki' bin Al
Jarrah
12.
'Amru bin
Muhamad bin Ukh asy Syura
13.
Ibnu Numair
14.
Abu Bakar Bin
Iyas
15.
Muhamad bin
Ubaid ath Thanafusi
16.
Yahya bin Abi
Zaidah
17.
Abdul Rahman
bin Mahdi
18.
Yazid bin Harun
19.
Abdurrazzaq bin
Hammam Ash Shan'ani
20.
Muhammad bin
Ja'far
Dan masih
banyak lagi guru-guru beliau.
Murid-murid beliau
Tidak
hanya ahli hadits dari kalangan murid-murid beliau saja yang
meriwayatkan dari beliau, tetapi
guru-guru beliau dan ulama-ulama besar pada masanyapun tidak ketinggalan untuk meriwayatkan dari beliau.
Dengan ini ada klasifikasi tersendiri
dalam kategori murid beliau, diantaranya;
Guru
beliau yang meriwayatkan hadits dari beliau;
1.
Abdurrazzaq
2.
Abdurrahman bin
Mahdi
3.
Waki' bin Al
Jarrah
4.
Al Imam Asy
Syafi'i
5.
Yahya bin
Adam
6.
Al Hasan bin
Musa al Asy-yab
Sedangkan dari ulama-ulama besar pada masanya yang
meriwayatkan dari beliau adalah;
1.
Al Imam Al
Bukhari
2.
Al Imam Muslim
bin Hajjaj
3.
Al Imam Abu
Daud
4.
Al Imam At
Tirmidzi
5.
Al Imam Ibnu
Majah
6.
Al Imam An
Nasa`i
Dan murid-murid
beliau yang meriwayatkan dari beliau
adalah;
1.
Ali bin Al
Madini
2.
Yahya bin Ma'in
3.
Dahim Asy Syami
4.
Ahmad bin Abi
Al Hawari
5.
Ahmad bin
Shalih Al Mishri
Persaksian para
ulama terhadap beliau
1.
Qutaibah
menuturkan; sebaik-baik penduduk pada zaman kita adalah Ibnu Al Mubarak, kemudian pemuda ini (Ahmad
bin Hambal), dan apabila kamu melihat
seseorang mencintai Ahmad, maka ketahuilah bahwa dia adalah pengikut sunnah. Sekiranya dia berbarengan dengan masa
Ats Tsauri dan al Auza'I serta Al Laits,
niscaya Ahmad akan lebih di dahulukan ketimbang mereka. Ketika di tanyakan kepada Qutaibah; apakah anda
menggabungkan Ahmad dalam kategori
Tabi'in? maka dia menjawab; bahkan kibaru at tabi'in. dan dia berkata;
'kalau bukan karena Ats Tsauri, wara'
akan sirnah. Dan kalau bukan karena Ahmad, dien
akan mati.'
2.
Asy Syafi'I
menuturkan; aku melihat seorang pemuda di Baghdad, apabila dia berkata; 'telah meriwayatkan kepada kami,'
maka orang-orang semuanya berkata; 'dia
benar'. Maka ditanakanlah kepadanya; 'siapakah dia?' dia menjawab; 'Ahmad bin Hambal.'
3.
Ali bin Al
Madini menuturkan; sesungghunya Allah memuliakan agama ini dengan perantaraan Abu Bakar pada saat
timbul fitnah murtad, dan dengan
perantaraan Ahmad bin Hambal pada saat fitnah Al qur`an makhluk.'
4.
Abu 'Ubaidah
menuturkan; 'ilmu kembali kepada empat orang'
kemudian dia menyebutkan Ahmad bin Hmabal, dan dia berkata; 'dia adalah
orang yang paling fakih diantara
mereka.'
5.
Abu Ja'far An
Nufaili menuturkan; 'Ahmad bin Hambal termasuk dari tokoh agama.'
6.
Yahya bin Ma'in
menuturkan; 'Aku tidak pernah melihat seseorang
yang meriwayatkan hadits karena Allah kecuali tiga orang; Ya'la bin
'Ubaid, Al Qa'nabi, Ahmad bin Hambal.'
7.
Ibrahim
berkata; 'orang 'alim pada zamannya adalah Sa'id bin Al Musayyab, Sufyan Ats Tsaur di zamannya, Ahmad
bin Hambal di zamannya.'
8.
Ibnu bi Hatim
menuturkan; 'Aku bertanya kepada ayahku tentang 'ali bin Al Madini dan Ahmad bin Hambal, siapa
diantara kedunya yang paling hafizh?'
maka ayahku menjawab; ' keduanya didalam hafalan saling mendekat, tetapi
Ahmad adalah yang paling fakih.'
9.
Imam Syafi'i
masuk menemui Imam Ahmad dan berkata, “Engkau lebih tahu tentang hadits dan
perawi-perawinya. Jika ada hadits shahih (yang engkau tahu), maka beri tahulah aku. Insya Allah,
jika (perawinya) dari Kufah atau Syam,
aku akan pergi mendatanginya jika memang shahih.†Ini
menunjukkan kesempurnaan agama dan akal
Imam Syafi'i karena mau mengembalikan ilmu kepada ahlinya.
Hasil karya beliau
Diantara
hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut :
1.
Al Musnad
2.
Al 'Ilal
3.
An Nasikh
wa al Mansukh
4.
Az Zuhd
5.
Al Asyribah
6.
Al Iman
7.
Al Fadla`il
8.
Al Fara`idl
9.
Al Manasik
10.
Tha'atu ar
Rasul
11.
Al Muqaddam wa
al mu`akhkhar
12.
Jawwabaatu al
qur`an
13.
Haditsu
Syu'bah
14.
Nafyu at
tasybih
15.
Al Imamah
16.
Kitabu al fitan
17.
Kitabu
fadla`ili ahli al bait
18.
Musnad ahli al
bait
19.
Al asmaa` wa al
kunaa
20.
Kitabu at
tarikh
Masih ada lagi buku-buku yang di nisbahkan kepada
imam Ahmad, diantaranya;
1.
At tafsir. Adz
Dzahabi berpendapat bahwa buku tersebut tidak
ada.
2.
Ar Risalah fi
ash shalah
3.
Ar Radd 'ala al
jahmiyyah.
Ada lagi
beberapa hasil karya beliau yang di kumpulkan
oleh Abu Bakar al Khallal, diantaranya;
1.
Kitabu al
'illal
2.
Kitabu al 'ilmi
3.
Kitabu as
sunnah.
Wafatnya beliau
Pada permulaan
hari Jumat tanggal 12 Rabi'ul Awwal
tahun 241, beliau menghadap kepada rabbnya menjemput ajalnya di Baghdad. Kaum
muslimin bersedih dengan kepergian
beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar
jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu
orang, ada pula yang mengatakan 800 ribu
orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu
juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya menunjukkan bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu
demi menunjukkan penghormatan dan
kecintaan mereka kepada beliau.
- Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail
Nama Lengkap :
Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail
Kalangan :
Shahabat
Kuniyah : Abu
'Abdur Rahman
Negeri semasa
hidup : Madinah
Wafat : 73 H
|
ULAMA
|
KOMENTAR
|
|
Ibnu Hajar Al
Atsqalani
|
Shahabat
|
|
Adz Dzahabi
|
Shahabat
|
c. Nafi', maula Ibnu 'Umar
- Nama Lengkap : "Nafi', maula Ibnu 'Umar "
- Kalangan : Tabi'in kalangan biasa
- Kuniyah : Abu 'Abdullah
- Negeri semasa hidup : Madinah
- Wafat : 117 H
|
ULAMA
|
KOMENTAR
|
|
Yahya bin
Ma'in
|
Tsiqah
|
|
Al 'Ajli
|
Tsiqah
|
|
An Nasa'i
|
Tsiqah
|
|
Ibnu Kharasy
|
Tsiqah
|
d. Fudloil bin
Ghazwan bin Jarir
- Nama Lengkap : Fudloil bin Ghazwan bin Jarir
- Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan tua
- Kuniyah : Abu Al Fadlol
- Negeri semasa hidup : Kufah
- Wafat :
|
ULAMA
|
KOMENTAR
|
|
Yahya bin
Ma'in
|
Tsiqah
|
|
Ibnu Hibban
|
disebutkan
dalam 'ats tsiqaat
|
|
Ibnu Hajar al
'Asqalani
|
Tsiqah
|
- Nama Lengkap : Waki' bin Al Jarrah bin Malih
- Kalangan : Tabi'in kalangan biasa
- Kuniyah : Abu Sufyan
- Negeri semasa hidup : Kufah
e.
Wafat : 196 H Waki' bin Al Jarrah bin Malih
|
ULAMA
|
KOMENTAR
|
|
Al 'Ajli
|
Tsiqah
|
|
Ya'kub bin
Syaibah
|
Hafizh
|
|
Ibnu Sa'd
|
tsiqah ma`mun
|
|
Ibnu Hibban
|
Hafizh
|
|
Ibnu Hajar al
'Asqalani
|
tsiqah ahli
ibadah
|
|
Adz Dzahabi
|
seorang tokoh
|
Setelah melakukan penelitian terhadap sanad hadis yang menjadi
objek kajian dalam makalah ini, ditemukan bahwa adanya kemungkinan bertemunya
rawi, didukung oleh keterangan-keterangan dalam biografi yang mencamtumkan nama
guru dan murid yang menyebabkan sanadnya bersambung. Selain itu, beberapa penilaian ulama yang
mengatakan tsiqah terhadap kualitas rawinya. Sehingga dengan demikian,
ditinjau dari segi sanadnya hadis ini memenuhi syarat hadis shahih.
2.
Penelitian
matan
Ditinjau
dari segi matan hadis yang menjadi objek penelitian ini, tidak ditemukan adanya
kejanggalan dalam matannya yang bertentangan dengan Al-Qur’an maupun hadis
lainnya, sehingga dengan demikian dapat dipastikan bahwa kualitas hadis
tersebut adalah shahih. Selanjudnya akan lebih diperjelas pada pembahasan
mengenai kandungan hadis.
D.
Kajian
kandungan hadis
Dapat diambil
kesimpulan bahwa larangan memanggil orang dengan ucapan kafir sangatlah
memiliki dampak, Jika panggilan itu keliru, artinya orang yang dipanggil kafir
tidak benar kafir, maka kata kafir akan kembali kepada orang yang memanggil.
Wal iyadzu billah. Jika benar, maka dia selamat dari resiko kekafiran atau
kefasikaan, namun bukan berarti ia selamat dari dosa. Sebagaimana yang
dikatakan oleh Ibnu Hajar. Maksudnya, orang yang memanggil
saudaranya dengan kata kafir atau fasiq, meskipun benar, namun boleh jadi ia
menanggung dosa.
Misalkan jika maksud
dan tujuannya untuk mencela, membongkar aib orang di masyarakat atau
memperkenalkan orang ini. Perbuatan seperti ini tidak diperbolehkan. Kita
diperintahkan untuk menutupi aib ini kemudian membimbing dan mengajarinya
dengan lemah lembut dan bijaksana. Sebagaimana firman Allah,
اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
Berserulah ke jalan
Rabbmu dengan hikmah dan dengan nasihat yang baik. [An Nahl:125]
Selama masih bisa
dibimbing dengan lemah lembut, maka jalan kekerasan tidak boleh ditempuh. Dan
juga, panggilan kafir dan fasiq sering membuat orang menjadi marah. Lalu
syaithan mendorongnya untuk terus-menerus melakukan perbuatan dosa. Sehingga
kadang ada yang mengatakan,“Ya saya ini kafir,” kemudian terus-menerus berbuat
dosa.
Adapun jika orang yang
mengucapkan, hai kafir atau hai fasiq, bertujuan untuk menakut-nakuti orang
yang dipanggil agar menghindari perbuatan-perbuatan dosa, atau untuk
menasihatinya dan atau untuk menasihati orang lain agar menjauhi perbuatan yang
dilakukan orang ini, maka orang ini jujur dan pada saat yang sama dia
mendapatkan pahala.
BAGAIMANA DENGAN
KEIMANAN YANG MENUDUH ?
Permasalahan yang
muncul selanjutnya ialah keimanan orang yang memanggil saudaranya dengan kafir.
Sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dan barangsiapa yang
memanggil seseorang dengan panggilan “kafir” atau “musuh Allah” padahal dia
tidak kafir, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh. [HR Muslim].
Apakah ia menjadi kafir
sebagaimana dhahir hadits di atas ataukah tidak? Para ulama berbeda pendapat
dalam menjelaskan makna maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh.
Pendapat Pertama mengatakan : Dia menjadi kafir jika diikuti dengan keyakinan
halalnya mengkafirkan orang muslim.
Pendapat Kedua mengatakan : Yang kembali ke penuduh ialah dosa mencela dan
mengkafirkan saudaranya.
Pendapat Ketiga mengatakan : Ini ialah haknya orang-orang Khawarij yang
mengkafirkan kaum muslimin (karena melakukan dosa besar, pent). Pendapat ini
dinukil oleh Qhadhi Iyadh dari Imam Malik bin Anas. Namun pendapat ini
dilemahkan oleh Imam Nawawi, karena menurut pendapat yang shahih sebagaimana
ucapan banyak ulama dan para pen-tahqiq, bahwa orang Khawarij tidak boleh
dikafirkan, seperti juga semua ahlul bid’ah tidak boleh dikafirkan.
Pendapat Keempat mengatakan : Bahwa perbuatan mengkafirkan itu akan menyeret kepada
ke-kufuran. Maksudnya, perbuatan ini (merusak kehormatan kaum muslimin dan
mengkafirkan tanpa alasan yang benar), dapat menyeret pelakunya kepada
kekufuran. Jika kenyaataannya sebagaimana ucapannya (maka dituduh kafir) dan
jika tidak benar, maka dia kembali dengan membawa kekufuran.
Pendapat Kelima mengatakan : Bahwa yang kembali kepada penuduh ialah dosa
mengkafirkan. Bukan kekufuran yang hakiki, tapi hanya dosa mengkafirkan, karena
mengkafirkan saudaranya. Maka seakan-akan mengkafirkan dirinya sendiri atau
mengkafirkan orang yang sama dengannya. Wallahu a’lam. [3]
Singkat kata, perkataan
seperti ini sangat berbahaya untuk diucapkan. Sudah sewajarnya (seharusnya)
kita berhati-hati menggunakan kalimat tersebut. Janganlah terburu-buru
menggunakan kata kafir, fasiq atau yang sejenisnya. Karena kekufuran merupakan
hukum syar’i yang berdasarkan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah. Janganlah
mengkafirkan seseorang, kecuali yang telah dikafirkan oleh Allah dan RasulNya.
Mengkafirkan seseorang karena perbedaan pendapat atau karena emosi merupakan
dosa besar.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
·
Pelaksanaan takhrij dilakukan dengan metode takhrij bi
al-lafzh, dengan menggunakan kata احدهم . Menurut petunjuk kamus hadis, al-Mu’jam,
potongan matan hadis: يَا
كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا terdapat dalam: Shahîh
al-Bukhărî, kitab al-Madzălim, no. 6104, bab; man akfarho akhahu
bii ghoiri ta’wilii fa huwa kamaa khola, Shahîh Muslim, no. 111,
bab; bayyina halaa imanan man khola liakhihi muslim yaa kafiru, Musnad
Ahmad, no. 4687, Jld. 4, dan Muwattho Malik dalam kitab Aklamu wal iyanati
wattaqho no 1844
·
Kualitas
hadis adalah sahih.
·
Kandungan
hadis merupakan larangan agar tidak saling
berkata mengkafirkan
B. SARAN
Dalam
penulisan makalah ini penulis merasa bahwa kajian filsafat ilmu sangat
mempunyai peranan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, olehnya itu penulis
menyarangkan agar makalah semacam ini lebih dikembangkan guna kemajuan kerangka
berfikir yang rasional.
[1] A. J.
Wensinck, at al., Al-Mu’jam al-Mufahrats li Alfăzh al-Hadîts al-Nabawîy.
Terj. Muhammad Fuw’ăd ‘Abd al-Băqî, (Leiden: E. J. Brill, 1936 M), Jld. 7, h. 41.
[2] Abî ‘Abdillăh Muhammad bin Ismă’îl al-Bukhărîy al-Ja’fiyyî,
Shahîh al-Bukhări, (Riyădh: Dăr al-Salăm, 1417H/1997M), man akfarho akhahu bii ghoiri ta’wilii fa
huwa kamaa khola, h.n. 6104, h. 1290.
[3] Abî al-Husaîn Muslim bin al-Hajjăj al-Qusyaîrîy al-Naîsabûrîy,
(Kairo: Dăr al-Hadîts, 1418H/1997M), Băb
bayyina halaa imanan man khola liakhihi muslim yaa kafiru, h.n. 111, h. 86.
[4] Abû ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal al-Syaybănî, al-Musnad
(Kairo: Dăr al-Hadîts, 1416H/1995M), n.h. 4687, Jld. 4, h. 361.
[5] Secara
etimologi, kata I’tibăr, merupakan masdar dari kata I’tabara yang
berarti peninjauan terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui
sesuatunya yang sejenis. Secara terminologi ilmu hadis, I’tibăr berarti
menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadis, yang hadis itu pada bagian
sanadnya tampak hanya seorang periwayat saja; dan dengan menyertakan sanad-sand
lain hadis tersebut akan diketahui apakah ada periwayat lain atau tidak ada untuk
bagian sanad hadis dimaksud. Lihat: M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian
Hadis Nabi (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 51-52.
[6] Mutăbi’
adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang atau lebih dari sahabat meskipun
pada tingkatan sahabat hanya satu orang saja. Lihat: ‘Abd al-Haq ibn Saif
al-Dîn ibn Sa’dullah al-Dahlawî, Muqaddimah fî Usûl al-Hadîs (Cet. II;
Beirut: Dăr al-Basyăir al-Islămiyah, 1986), h. 56-57.

0 komentar:
Posting Komentar