Sabtu, 23 Januari 2016

PENELITIAN HADIST



HADIS TENTANG MENJAWAB SALAM
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Menjaga lidah bukanlah perkara mudah lidah memang daging tak bertulang, namun apa yang keluar dari mulut bisa diambil atau dikembalikan lagi. Baik itu perkataan baik atau pun buruk bila telah terlontarkan dari lidah, tak akan ada yang dapat mengambilnya kembali. Syariat Islam sangat memperhatikan hal ini karena itulah ada adab dan etika berbicara dalam Islam. Baik adalah muatan pembicaraanya itu mengajak kepada sesuatu yang baik dan harus dengan hikmah atau kebijaksanaan yang baik pula. Sehingga adab sopan santun juga perlu diperhatikan seorang muslim dalam manajemen bicara harus dapat mengendalikan lisan. Sehingga dalam Islam sangatlah menjaga tentang ucapan mengucapkan kata kafir terhadap orang lain.
Sehingga dalam makalah ini, penulis mengambil tema etika dalam berbicara (Hukum Mengkafirkan) yang lebih bersifat kontekstual dengan menjadikan anjuran menjawab salam sebagai sub tema yang akan menjadi fokus pembahasan sekaligus melakukan penelitian hadis terkait dengan menggunakan metode takhrij dan i’tibăr dalam rangka mengetahui periwayat dan kualitas hadis dari segi sanad maupun matannya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Siapa yang meriwayatkan hadis tersebut?
2.      Bagaimana kandungan hadis tersebut?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Takhrij Hadis
Pelaksanaan takhrij dilakukan dengan metode takhrij bi al-lafzh, dengan menggunakan kata  احدهم . Menurut petunjuk kamus hadis, al-Mu’jam,[1] potongan matan hadis: يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا terdapat dalam: Shahîh al-Bukhărî, kitab al-Madzălim, no. 6104, bab; man akfarho akhahu bii ghoiri ta’wilii fa huwa kamaa khola, Shahîh Muslim, no. 111, bab; bayyina halaa imanan man khola liakhihi muslim yaa kafiru, Musnad Ahmad, no. 4687, Jld. 4, dan Muwattho Malik dalam kitab Aklamu wal iyanati wattaqho no 1844
Berikut ini dikemukakan secara lengkap teks hadis tersebut dalam riwayat para mukharrij:
1.    Dalam Shahîh al-Bukhărî terdapat dua jalur sanad:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا[2]
2.    Dalam Shahîh Muslim terdapat dua jalur sanad
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا[3]
3.    Dalam Musnad Ahmad terdapat satu jalur sanad:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ فُضَيْلِ بْنِ غَزْوَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا رَجُلٍ كَفَّرَ رَجُلًا فَأَحَدُهُمَا كَافِرٌ[4]

4.      Dalam Musnad Muwattho
حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ لِأَخِيهِ كَافِرٌ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا
Dari teks  hadis tersebut, tampak memiliki jalur sanad yang cukup bervariasi, baik nama periwayat yang menyampaikan riwayat itu kepada para mukharrij, juga lambang atau shighat tahammul yang digunakan. Dengan begitu , maka sangat wajar apabila diadakan kritik sanad, terutama bagi mereka yang menggunakan lambang عن (mu’an’anah). Sebab penggunaan lambang mu’an’anah itu, pada dasarnya sanadnya tidak bersambung, kecuali periwayat yang menggunakan lambang itu berstatus sebagai tsiqah (‘ădil dan dhăbith). Karena, ulama menyatakan bahwa periwayat yang tsiqah itu tidak mungkin berbohong dalam ucapannya. Uraian sanad dari berbagai jalur sanad yang ada akan tampak dalam uraian i’tibăr sanad.
B.     I’tibăr Sanad
Pada I’tibăr[5] sanad ini akan diuraikan setiap jalur sanad yang ada dalam satu bagan (skema sanad), dan dari situ akan tampak masing-masing lambang periwayatan yang digunakan oleh periwayat. Selain itu, akan jelas juga ada atau tidak adanya mutăbi[6] (pendukung) bagi periwayat yang dikritik oleh ulama tentang ke-tsiqah-annya, sehingga riwayat yang disampaikan oleh periwayat bersangkutan dapat meningkat derajatnya.


SKEMA SANAD HADIS


 MAAF BU' DE' SKEMA NDAK BISA MUNCUL


C.     Penelitian sanad dan matan hadis dari segi kualitas
1.      Penelitian sanad
      Pada penelitian sanad ini, penulis memilih hadis yang melalui jalur Ahmad, dengan susunan sanad sebagai berikut:
a.       Ahmad bin Hanbal
Nama: Â Ahmad bin Muhamad bin Hanbal bin Hilal  bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin 'Auf bin  Qasithi bin Marin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa'labah bin Uqbah bin Sha'ab bin  Ali bin Bakar bin Wail.
Kuniyah: Abu Abdillah
Nasab beliau: Bapak dan ibu beliau adalah orang arab, keduanya anak Syaiban bin Dzuhl bin  Tsa'labah, seorang arab asli. Bahkan nasab beliau bertemu dengan Nabi  shallallahu 'alaihi wa sallam di Nazar.
Kelahiran beliau: Imam Ahmad dilahirkan di kota Baghdad. Ada yang  berpendapat bahwa di Marwa, kemudian di bawa ke Baghdad ketika beliau masih  dalam penyusuan. Hari lahir beliau pada tanggal dua puluh Rabi'ul awwal tahun  164 hijriah.
Ayah Imam Ahmad dan kakeknya meninggal ketika beliau  lahir, sehingga semenjak kecil ia hanya mendapatkan pengawasan dan kasih sayang  ibunya saja. Jadi, beliau tidak hanya sama dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa  sallam dalam masalah nasab saja, akan tetapi beliau juga sama dengan Nabi  shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah yatim.
Meskipun imam Ahmad tidak mewaritsi harta dari ayah dan  kakeknya, tetapi beliau telah mewaritsi dari kakeknya kemulian nasab dan  kedudukan, sedang dari ayahnya telah mewaritsi kecintaan terhadap jihad dan  keberanian. Ayah beliau, Muhammad bin Hambal menemui ajalnya ketika sedang  berada di medan jihad, sedang kakeknya, Hambal bin Hilal adalah seorang  penguasa daerah Sarkhas, pada saat kekhilafahan Umawiyyah.
Aktifitas  beliau dalam menimba ilmu
Permulaan imam Ahmad dalam  rangka menuntut ilmu pada tahun 179   hijriah,  pada saat itu beliau berusia empat belas tahu, beliau menuturkan tentang  dirinya; ' ketika aku masih anak-anak, aku modar-mandir menghadiri sekolah  menulis, kemudian aku bolak-balik datang keperpustakaan   ketika aku berumur empat belas tahun.'
Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu,  kota Bagdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan  beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari', ahli hadits, para  sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.
Setamatnya menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu  bahasa Arab di al-Kuttab saat berumur 14 tahun, beliau melanjutkan  pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu dengan penuh semangat  yang tinggi dan tidak mudah putus asa.
Keteguhan dalam mencari ilmu telah mengantarkan imam Ahmad menjadi ulama  besar dan disegani, baik dari kalangan masyarakat awwam, terpelajar maupun dari  kalangan penguasa. Dalam rihlah ilmiyyah yang beliau jalani, ada satu pelajaran  yang patut kita conth, setiap kali bekalnya habis, beliau selalu mendermakan  dirinya untuk bekerja guna melanjutkan perjalanannya. Ia tidak mau menerima  uang ataupun materi lainnya selain dari hasil kerja keras dan hasil keringatnya  sendiri.
Rihlah  beliau
Kecintaannya kepada ilmu begitu luar biasa. Karenanya,  setiap kali mendengar ada ulama terkenal di suatu tempat, ia rela menempuh  perjalanan jauh dan waktu lama hanya untuk menimba ilmu dari sang ulama. Kecintaan  kepada ilmu jua yang menjadikan beliau rela tak menikah dalam usia muda. Beliau baru menikah setelah usia 40 tahun.
diantara negri yang beliau kunjungi adalah:
1.      Bashrah; beliau kunjungi pada tahun 186 hijriah, kedua kalinya  beliau mengunjungi pada tahun 190 hijriah, yang ketiga beliau kunjungi pada  tahun 194 hijriah, dan yang keempat beliau mengunjungi pada tahun 200 hijriah.
2.      Kufah; beliau mengunjunginya pada tahun 183 hijriah, dan keluar  darinya pada tahun yang sama, dan ini merupakan rihlah beliau yang pertama kali  setelah keluar dari Baghdad.
3.      Makkah; beliau memasukinya pada tahun 187 hijriah, di sana berjumpa dengan imam  Syafi'i. kemudian beliau mengunjunginya lagi pada tahun 196 hijriah, dan beliau  juga pernah tinggal di Makkah pada tahun 197, pada tahun itu bertemu dengan  Abdurrazzaq. Kemudian pada tahun 199 hijriah beliau keluar dari Makkah.
4.      Yaman; beliau meninggalkan Makkah menuju Yaman dengan  berjalan kaki pada tahun 199 hijriah. Tinggal di depan pintu Ibrahim bin 'Uqail  selama dua hari dan dapat menulis hadits dari Adurrazzaq.
5.      Tharsus; Abdullah menceritakan; ' ayahku keluar menuju  Tharsus dengan berjalan kaki.
6.      Wasith; Imam Ahmad menuturkan tentang perjalanan beliau;  ' aku pernah tinggal di tempat Yahya bin Sa'id Al Qaththan, kemudian keluar  menuju Wasith.' 
7.      Ar Riqqah; Imam Ahmad menuturkan; 'Di Riqqah aku tidak  menemukan seseorang yang lebih utama ketimbang Fayyadl bin Muhammad bin Sinan.'
8.      Ibadan; beliau mengunjunginya pada tahun 186 hijriah, di  sana tinggal Abu Ar Rabi' dan beliau dapat menulis hadits darinya.
9.      Mesir; beliau berjanji kepada imam Syafi'I untuk  mengunjunginya di Mesir, akan tetapi dirham tidak menopangnya mengunjungi imam  Syafi'I di sana.
Guru-guru  beliau
  Semenjak kecil imam Ahmad memulai untuk belajar, banyak  sekali guru-guru beliau, diantaranya;
1.      Husyaim bin Basyir, imam Ahmad berguru kepadanya selama  lima tahun di kota Baghdad.
2.      Sufyan bin  Uyainah
3.      Ibrahim bin  Sa'ad
4.      Yahya bin  Sa'id al Qaththân
5.      Walîd bin  Muslim
6.      Ismail bin  'Ulaiyah
7.      Al Imam Asy  Syafi'i
8.      Al Qadli Abu Yusuf
9.      Ali bin Hasyim bin al Barid
10.  Mu'tamar bin Sulaiman
11.  Waki' bin Al Jarrah
12.  'Amru bin Muhamad bin Ukh asy Syura
13.  Ibnu Numair
14.  Abu Bakar Bin Iyas
15.  Muhamad bin Ubaid ath Thanafusi
16.  Yahya bin Abi Zaidah
17.  Abdul Rahman bin Mahdi
18.  Yazid bin Harun
19.  Abdurrazzaq bin Hammam Ash Shan'ani
20.  Muhammad bin Ja'far
Dan masih banyak lagi guru-guru beliau.
Murid-murid  beliau
  Tidak  hanya ahli hadits dari kalangan murid-murid beliau saja yang meriwayatkan dari  beliau, tetapi guru-guru beliau dan ulama-ulama besar pada masanyapun tidak  ketinggalan untuk meriwayatkan dari beliau. Dengan ini ada klasifikasi  tersendiri dalam kategori murid beliau, diantaranya;
  Guru  beliau yang meriwayatkan hadits dari beliau;
1.      Abdurrazzaq
2.      Abdurrahman bin Mahdi
3.      Waki' bin Al Jarrah 
4.      Al Imam Asy Syafi'i 
5.      Yahya bin Adam 
6.      Al Hasan bin Musa al  Asy-yab
Sedangkan  dari ulama-ulama besar pada masanya yang meriwayatkan dari beliau adalah;
1.      Al Imam Al Bukhari
2.      Al Imam Muslim bin Hajjaj
3.      Al Imam Abu Daud
4.      Al Imam At Tirmidzi
5.      Al Imam Ibnu Majah
6.      Al Imam An Nasa`i
Dan murid-murid beliau yang meriwayatkan dari  beliau adalah;
1.      Ali bin Al Madini
2.      Yahya bin Ma'in
3.      Dahim Asy Syami
4.      Ahmad bin Abi Al Hawari
5.      Ahmad bin Shalih Al Mishri


Persaksian para ulama terhadap beliau
1.      Qutaibah menuturkan; sebaik-baik penduduk pada zaman kita adalah  Ibnu Al Mubarak, kemudian pemuda ini (Ahmad bin Hambal), dan apabila kamu  melihat seseorang mencintai Ahmad, maka ketahuilah bahwa dia adalah pengikut  sunnah. Sekiranya dia berbarengan dengan masa Ats Tsauri dan al Auza'I serta Al  Laits, niscaya Ahmad akan lebih di dahulukan ketimbang mereka. Ketika di  tanyakan kepada Qutaibah; apakah anda menggabungkan Ahmad dalam kategori  Tabi'in? maka dia menjawab; bahkan kibaru at tabi'in. dan dia berkata; 'kalau  bukan karena Ats Tsauri, wara' akan sirnah. Dan kalau bukan karena Ahmad, dien  akan mati.'
2.      Asy Syafi'I menuturkan; aku melihat seorang pemuda di Baghdad, apabila dia  berkata; 'telah meriwayatkan kepada kami,' maka orang-orang semuanya berkata;  'dia benar'. Maka ditanakanlah kepadanya; 'siapakah dia?' dia menjawab; 'Ahmad  bin Hambal.'
3.      Ali bin Al Madini menuturkan; sesungghunya Allah memuliakan agama  ini dengan perantaraan Abu Bakar pada saat timbul fitnah murtad, dan dengan  perantaraan Ahmad bin Hambal pada saat fitnah Al qur`an makhluk.'
4.      Abu 'Ubaidah menuturkan; 'ilmu kembali kepada empat orang'  kemudian dia menyebutkan Ahmad bin Hmabal, dan dia berkata; 'dia adalah orang  yang paling fakih diantara mereka.'
5.      Abu Ja'far An Nufaili menuturkan; 'Ahmad bin Hambal termasuk dari  tokoh agama.'
6.      Yahya bin Ma'in menuturkan; 'Aku tidak pernah melihat seseorang  yang meriwayatkan hadits karena Allah kecuali tiga orang; Ya'la bin 'Ubaid, Al  Qa'nabi, Ahmad bin Hambal.'
7.      Ibrahim berkata; 'orang 'alim pada zamannya adalah Sa'id bin Al  Musayyab, Sufyan Ats Tsaur di zamannya, Ahmad bin Hambal di zamannya.'
8.      Ibnu bi Hatim menuturkan; 'Aku bertanya kepada ayahku tentang 'ali  bin Al Madini dan Ahmad bin Hambal, siapa diantara kedunya yang paling hafizh?'  maka ayahku menjawab; ' keduanya didalam hafalan saling mendekat, tetapi Ahmad  adalah yang paling fakih.'
9.      Imam Syafi'i masuk menemui Imam Ahmad dan berkata, “Engkau  lebih tahu tentang hadits dan perawi-perawinya. Jika ada hadits shahih (yang engkau  tahu), maka beri tahulah aku. Insya Allah, jika (perawinya) dari Kufah atau  Syam, aku akan pergi mendatanginya jika memang shahih.” Ini menunjukkan  kesempurnaan agama dan akal Imam Syafi'i karena mau mengembalikan ilmu kepada  ahlinya.
Hasil  karya beliau
  Diantara  hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut :
1.      Al Musnad
2.      Al 'Ilal
3.      An Nasikh wa  al Mansukh
4.      Az Zuhd
5.      Al Asyribah
6.      Al Iman
7.      Al Fadla`il
8.      Al Fara`idl
9.      Al Manasik
10.  Tha'atu ar Rasul
11.  Al Muqaddam wa al mu`akhkhar
12.  Jawwabaatu al qur`an
13.  Haditsu Syu'bah 
14.  Nafyu at tasybih
15.  Al Imamah
16.  Kitabu al fitan
17.  Kitabu fadla`ili  ahli al bait
18.  Musnad ahli al bait
19.  Al asmaa` wa al kunaa
20.  Kitabu at tarikh
Masih  ada lagi buku-buku yang di nisbahkan kepada imam Ahmad, diantaranya;
1.      At tafsir. Adz Dzahabi berpendapat bahwa buku tersebut tidak  ada.
2.      Ar Risalah fi ash shalah
3.      Ar Radd 'ala al jahmiyyah.
Ada lagi beberapa hasil karya beliau yang di kumpulkan  oleh Abu Bakar al Khallal, diantaranya;
1.      Kitabu al 'illal
2.      Kitabu al 'ilmi
3.      Kitabu as sunnah.
Wafatnya  beliau
Pada permulaan hari Jumat tanggal 12  Rabi'ul Awwal tahun 241, beliau menghadap kepada rabbnya menjemput ajalnya di Baghdad. Kaum muslimin  bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar  jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang,  ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu  juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya menunjukkan bahwa sangat  banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menunjukkan penghormatan dan  kecintaan mereka kepada beliau.
  1. Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail
Nama Lengkap : Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail
Kalangan : Shahabat
Kuniyah : Abu 'Abdur Rahman
Negeri semasa hidup : Madinah
Wafat : 73 H

ULAMA
KOMENTAR
Ibnu Hajar Al Atsqalani
Shahabat
Adz Dzahabi
Shahabat

c.       Nafi', maula Ibnu 'Umar
  • Nama Lengkap : "Nafi', maula Ibnu 'Umar "
  • Kalangan : Tabi'in kalangan biasa
  • Kuniyah : Abu 'Abdullah
  • Negeri semasa hidup : Madinah
  • Wafat : 117 H

ULAMA
KOMENTAR
Yahya bin Ma'in
Tsiqah
Al 'Ajli
Tsiqah
An Nasa'i
Tsiqah
Ibnu Kharasy
Tsiqah
d.      Fudloil bin Ghazwan bin Jarir
  • Nama Lengkap : Fudloil bin Ghazwan bin Jarir
  • Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan tua
  • Kuniyah : Abu Al Fadlol
  • Negeri semasa hidup : Kufah
  • Wafat :
ULAMA
KOMENTAR
Yahya bin Ma'in
Tsiqah
Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'ats tsiqaat
Ibnu Hajar al 'Asqalani
Tsiqah
  • Nama Lengkap : Waki' bin Al Jarrah bin Malih
  • Kalangan : Tabi'in kalangan biasa
  • Kuniyah : Abu Sufyan
  • Negeri semasa hidup : Kufah
e.       Wafat : 196 H Waki' bin Al Jarrah bin Malih
ULAMA
KOMENTAR
Al 'Ajli
Tsiqah
Ya'kub bin Syaibah
Hafizh
Ibnu Sa'd
tsiqah ma`mun
Ibnu Hibban
Hafizh
Ibnu Hajar al 'Asqalani
tsiqah ahli ibadah
Adz Dzahabi
seorang tokoh

Setelah melakukan penelitian terhadap sanad hadis yang menjadi objek kajian dalam makalah ini, ditemukan bahwa adanya kemungkinan bertemunya rawi, didukung oleh keterangan-keterangan dalam biografi yang mencamtumkan nama guru dan murid yang menyebabkan sanadnya bersambung. Selain itu, beberapa penilaian ulama yang mengatakan tsiqah terhadap kualitas rawinya. Sehingga dengan demikian, ditinjau dari segi sanadnya hadis ini memenuhi syarat hadis shahih.
2.      Penelitian matan
Ditinjau dari segi matan hadis yang menjadi objek penelitian ini, tidak ditemukan adanya kejanggalan dalam matannya yang bertentangan dengan Al-Qur’an maupun hadis lainnya, sehingga dengan demikian dapat dipastikan bahwa kualitas hadis tersebut adalah shahih. Selanjudnya akan lebih diperjelas pada pembahasan mengenai kandungan hadis.
D.     Kajian kandungan hadis
Dapat diambil kesimpulan bahwa larangan memanggil orang dengan ucapan kafir sangatlah memiliki dampak, Jika panggilan itu keliru, artinya orang yang dipanggil kafir tidak benar kafir, maka kata kafir akan kembali kepada orang yang memanggil. Wal iyadzu billah. Jika benar, maka dia selamat dari resiko kekafiran atau kefasikaan, namun bukan berarti ia selamat dari dosa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar.  Maksudnya, orang yang memanggil saudaranya dengan kata kafir atau fasiq, meskipun benar, namun boleh jadi ia menanggung dosa.
Misalkan jika maksud dan tujuannya untuk mencela, membongkar aib orang di masyarakat atau memperkenalkan orang ini. Perbuatan seperti ini tidak diperbolehkan. Kita diperintahkan untuk menutupi aib ini kemudian membimbing dan mengajarinya dengan lemah lembut dan bijaksana. Sebagaimana firman Allah,

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ


Berserulah ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan dengan nasihat yang baik. [An Nahl:125]
Selama masih bisa dibimbing dengan lemah lembut, maka jalan kekerasan tidak boleh ditempuh. Dan juga, panggilan kafir dan fasiq sering membuat orang menjadi marah. Lalu syaithan mendorongnya untuk terus-menerus melakukan perbuatan dosa. Sehingga kadang ada yang mengatakan,“Ya saya ini kafir,” kemudian terus-menerus berbuat dosa.
Adapun jika orang yang mengucapkan, hai kafir atau hai fasiq, bertujuan untuk menakut-nakuti orang yang dipanggil agar menghindari perbuatan-perbuatan dosa, atau untuk menasihatinya dan atau untuk menasihati orang lain agar menjauhi perbuatan yang dilakukan orang ini, maka orang ini jujur dan pada saat yang sama dia mendapatkan pahala.
BAGAIMANA DENGAN KEIMANAN YANG MENUDUH ?
Permasalahan yang muncul selanjutnya ialah keimanan orang yang memanggil saudaranya dengan kafir. Sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dan barangsiapa yang memanggil seseorang dengan panggilan “kafir” atau “musuh Allah” padahal dia tidak kafir, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh. [HR Muslim].
Apakah ia menjadi kafir sebagaimana dhahir hadits di atas ataukah tidak? Para ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan makna maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh.
Pendapat Pertama mengatakan : Dia menjadi kafir jika diikuti dengan keyakinan halalnya mengkafirkan orang muslim.
Pendapat Kedua mengatakan : Yang kembali ke penuduh ialah dosa mencela dan mengkafirkan saudaranya.
Pendapat Ketiga mengatakan : Ini ialah haknya orang-orang Khawarij yang mengkafirkan kaum muslimin (karena melakukan dosa besar, pent). Pendapat ini dinukil oleh Qhadhi Iyadh dari Imam Malik bin Anas. Namun pendapat ini dilemahkan oleh Imam Nawawi, karena menurut pendapat yang shahih sebagaimana ucapan banyak ulama dan para pen-tahqiq, bahwa orang Khawarij tidak boleh dikafirkan, seperti juga semua ahlul bid’ah tidak boleh dikafirkan.
Pendapat Keempat mengatakan : Bahwa perbuatan mengkafirkan itu akan menyeret kepada ke-kufuran. Maksudnya, perbuatan ini (merusak kehormatan kaum muslimin dan mengkafirkan tanpa alasan yang benar), dapat menyeret pelakunya kepada kekufuran. Jika kenyaataannya sebagaimana ucapannya (maka dituduh kafir) dan jika tidak benar, maka dia kembali dengan membawa kekufuran.
Pendapat Kelima mengatakan : Bahwa yang kembali kepada penuduh ialah dosa mengkafirkan. Bukan kekufuran yang hakiki, tapi hanya dosa mengkafirkan, karena mengkafirkan saudaranya. Maka seakan-akan mengkafirkan dirinya sendiri atau mengkafirkan orang yang sama dengannya. Wallahu a’lam. [3]
Singkat kata, perkataan seperti ini sangat berbahaya untuk diucapkan. Sudah sewajarnya (seharusnya) kita berhati-hati menggunakan kalimat tersebut. Janganlah terburu-buru menggunakan kata kafir, fasiq atau yang sejenisnya. Karena kekufuran merupakan hukum syar’i yang berdasarkan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah. Janganlah mengkafirkan seseorang, kecuali yang telah dikafirkan oleh Allah dan RasulNya. Mengkafirkan seseorang karena perbedaan pendapat atau karena emosi merupakan dosa besar.

BAB III
PENUTUP
A.     KESIMPULAN
·         Pelaksanaan takhrij dilakukan dengan metode takhrij bi al-lafzh, dengan menggunakan kata  احدهم . Menurut petunjuk kamus hadis, al-Mu’jam, potongan matan hadis: يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا terdapat dalam: Shahîh al-Bukhărî, kitab al-Madzălim, no. 6104, bab; man akfarho akhahu bii ghoiri ta’wilii fa huwa kamaa khola, Shahîh Muslim, no. 111, bab; bayyina halaa imanan man khola liakhihi muslim yaa kafiru, Musnad Ahmad, no. 4687, Jld. 4, dan Muwattho Malik dalam kitab Aklamu wal iyanati wattaqho no 1844
·         Kualitas hadis adalah sahih.
·         Kandungan hadis merupakan larangan agar tidak saling berkata mengkafirkan
B.     SARAN
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa bahwa kajian filsafat ilmu sangat mempunyai peranan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, olehnya itu penulis menyarangkan agar makalah semacam ini lebih dikembangkan guna kemajuan kerangka berfikir yang rasional.  


[1] A. J. Wensinck, at al., Al-Mu’jam al-Mufahrats li Alfăzh al-Hadîts al-Nabawîy. Terj. Muhammad Fuw’ăd ‘Abd al-Băqî, (Leiden: E. J. Brill, 1936 M), Jld. 7, h. 41.

[2] Abî ‘Abdillăh Muhammad bin Ismă’îl al-Bukhărîy al-Ja’fiyyî, Shahîh al-Bukhări, (Riyădh: Dăr al-Salăm, 1417H/1997M),  man akfarho akhahu bii ghoiri ta’wilii fa huwa kamaa khola, h.n. 6104, h. 1290.

[3] Abî al-Husaîn Muslim bin al-Hajjăj al-Qusyaîrîy al-Naîsabûrîy, (Kairo: Dăr al-Hadîts, 1418H/1997M),  Băb bayyina halaa imanan man khola liakhihi muslim yaa kafiru, h.n. 111, h. 86.

[4] Abû ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal al-Syaybănî, al-Musnad (Kairo: Dăr al-Hadîts, 1416H/1995M), n.h. 4687, Jld. 4, h. 361.

[5] Secara etimologi, kata I’tibăr, merupakan masdar dari kata I’tabara yang berarti peninjauan terhadap berbagai hal dengan maksud untuk dapat diketahui sesuatunya yang sejenis. Secara terminologi ilmu hadis, I’tibăr berarti menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadis, yang hadis itu pada bagian sanadnya tampak hanya seorang periwayat saja; dan dengan menyertakan sanad-sand lain hadis tersebut akan diketahui apakah ada periwayat lain atau tidak ada untuk bagian sanad hadis dimaksud. Lihat: M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 51-52.

[6] Mutăbi’ adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang atau lebih dari sahabat meskipun pada tingkatan sahabat hanya satu orang saja. Lihat: ‘Abd al-Haq ibn Saif al-Dîn ibn Sa’dullah al-Dahlawî, Muqaddimah fî Usûl al-Hadîs (Cet. II; Beirut: Dăr al-Basyăir al-Islămiyah, 1986), h. 56-57.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;