Sabtu, 23 Januari 2016

CLASH ROOM MANAGEMENT


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan hal yang penting bagi suatu negara untuk menjadi negara maju, kuat, makmur dan sejahtera. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak bisa terpisah dengan masalah pendidikan bangsa. Ada beberapa syarat utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan pendidikan agar dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) salah satunya adalah guru dan tenaga kependidikan yang yang profesional.
Guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru malaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar peserta didk. Semua komponen pengajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pengelolaan kelas tidak hanya berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik dan rutinitas. Kegiatan pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana dan kondisi kelas.
Belajar merupakan proses yang sangat penting bagi peserta didik. Oleh karena itu, Seorang guru dituntut untuk dapat mengembangkan program pembelajaran yang optimal, sehingga terwujud proses pembelajaran yang efektif dan efisien.[1]
Kelas yang kondusif adalah lingkungan pembelajaran yang mendorong terjadinya proses  pembelajaran yang intensif dan efektif. Strategi belajar apapun yang digunakan guru akan menjadi tidak efektif jika  tidak didukung dengan iklim dan kondisi kelas yang kondusif. Oleh sebab itu, sudah selayaknya kelas dikelola dengan baik, profesional, dan berkelanjutan.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan maka yang menjadi pokok permasalahan adalah “ classroom management”. Dari pokok permasalahan tersebut, dirumuskan sub masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana konsep dasar pengelolaan kelas?
2.      Bagaimana pengaruh manajerial kelas terhadap proses pembelajaran?

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Konsep dasar pengelolaan kelas (classroom management)
1.    Pengetian pengelolaan kelas (classroom management)
Secara etimologis, manajemen kelas terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Seperti yang diungkapkan oleh Sudarwan Danim bahwa manajemen kelas (classroom management) dibangun oleh dua kata, yaitu manajemen (management), dan kelas dalam makna ruang kelas (classroom).[1]
Kata management merupakan Bahasa Inggris,  yang selanjutnya dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen yang berarti pengelolaan.
Menurut Winarno dalam Suharsimi Arikunto bahwa pengelolaan adalah substantifa dari mengelola, yang berarti suatu tindakan yang dimulia dari penyusunan data, merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan sampai dengan pengawasan dan penilaian.[2]
Kata manajemen awalnya hanya sangat populer di dunia bisnis dan komersial. Di dunia pendidikan lebih dikenal istilah administrasi. Karena itu, di lingkungan institusi pendidikan sangat populer istilah administrasi pendidikan, administrasi sekolah, dan administrasi kelas. Jika ditilik kerja atau fungsinya, administasi dan manajemen boleh dikatakan sama. Meskipun ada para ahli yang mengatakan bahwa manajemen merupakan inti dari kegiatan atau proses administrasi. Tetapi kini kata manajemen semakin populer di dunia bisnis, pemerintahan, maupun pendidikan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kelas didefinisikan sebagai ruang tempat belajar di sekolah.[3] Pada tataran paling awam, kelas bermakna “tingkatan” untuk menunjukan status atau posisi siswa di sekolah tertentu, misalnya kelas I, kelas II, dan sebagainya.
Menurut Suharsimi yang dikutip  oleh Martinis Yamin menyebutkan bahwa kelas berarti sekelompok peserta didik dalam waktu yang sama menerima pembelajaran dari guru yang sama.[4]
Berdasarkan pengertian tersebut, Mulyasa sebagaimana yang dikutip Martinis Yamin dan Maisah mendefenisikan pengelolaan kelas sebagai keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.[5]
Senada dengan pendapat Mulyasa, Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan juga memandang bahwa pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam pembelajaran.[6]
Menurut Hadari Nawawi, Pengelolaan/manajemen kelas merupakan kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.[7]
Sedangkan menurut Wijaya dan Rusyan, manajemen/pengelolaan kelas adalah usaha sadar dari pihak guru untuk menata kehidupan kelas dimulai dari perencanaan kurikulum (meliputi: tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran, metode mengajar, alat peraga/media, evaluasi), pengorganisasian proses belajar mengajar (meliputi: absensi/daftar kehadiran, kepemimpina, sikap, suara, pembinaan hubungan baik, pemilihan sumber belajar, pemanfaatan sumber belajar), pengaturan lingkungan (meliputi: ruang belajar, pengaturan tempat duduk, ventilasi dan cahaya, pengaturan penyimpinan barang) untuk memaksimumkan efisiensi, memantau kemajuan siswa dan mengantisifasi maaslah-masalah yang akan timbul.[8]
Pengelolaan kelas (classroom management) dalam konteks belajar mengajar diartikan sebagai jenis kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal untuk membelajarkan subjek didik. Berbagai kegiatan yang dimaksudkan adalah pengelolaan yang secara sengaja diciptakan agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara kondusif.
Berdasarkan pendapat di atas, penulis berkesimpulan bahwa manajemen kelas merupakan kemampuan guru dalam proses mengelola sumber daya kelas dari mulai perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan tujuan untuk mengoptimalkan proses pembelajaran.
2.    Tujuan pengelolaan kelas (classroom management)
Menurut usman, pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu:
a.       Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas pebelajaran untuk mencapai hasil yang baik.
b.      Tujuan khusus pengelolaan kelas adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menggunakan pembelajaran, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan peserta didik bekerja dan belajar, serta membantu peserta didik untuk memperoleh hasil yang diharapkan.[9]
Sedangkan menurut suharsimi rikunto yang dikutip oleh Saiful Bahri djamarah berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap peserta didik di kelas dapat bekerja dngan tertib sehingga segera mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Menurutnya sebagai indikator kelas yang tertib adalah apabila:
a.       Setiap peserta didik terus bekerja, tidak macet, aartinya tidak ada yang berhenti karena tidak tahu akan tugas yang harus yang dilakukan atau tidak tahu melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.
b.      Setiap peserta didik terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, setiap peserta didik  akan bekerja secepatnya agar lekas menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya.[10]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah menyediakan, menciptkan dan memelihara kondisi yang optimal di dalam kelas sehingga peserta didik dapat belajar dan bekerja dengan baik.
Dengan adanya tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya teah tekandung dalam tujuan pendidikan. Maka tujuan pengelolaan kelas adalah menyediakan fasilitas bagi kegiatan pembelajaran. Fasilitas yang disediakan itu meemuungkinkan peserta didik bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, ssuasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada peserta didik.
3.    Pendekatan pengelolaan kelas (classroom management)
Pengelolaan kelas bukanlah sesuatu yang bediri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan peserta didik adalah faktor utama yagn dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan semangat peserta didik baik secara berkelompok maupun secara individual.[11]
Lahirnya interaksi yang optimal bergantung pada pendekatan yang dilakukan guru dalam rangka pengelolaan kelas. Berbagai pendekatan yang dapat dilakukan adalah sebagi berikut:
a.       Pendekatan Kekuasaan, Pengelolaan kelas diartikan sebagai proses untuk  mengontrol tingkah laku peserta didik.
b.      Pendekatan Ancaman, pendekatan ini juga memandang bahwa pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik.
c.       Pendekatan kebebasan, pengelolan diartikan sebagai suatu proses untuk membantu peserta didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan dan di mana saja.
d.      Pendekatan pembelajaran, pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku peserta didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah.
e.       Pendekatan perubahan tingkah laku, sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku peserta didik.
f.       Pendekatan suasana emosi dan hubungan sosial. Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial di dalam kelas sebagai kelompok individu cenderung pada pandangan psikologi klinis da konseling (penyuluhan).
g.      Pendekatan  proses kelompok. Pendekatan ini diartikan sebagai suatu  proses untuk menciptakan kelas sebagai suatu sistem sosial,  di mana proses kelompok merupakan yang paling utama.
h.      Pendekatan elektis dan pluralistik. Pendekatan elektis (electic approach) ini menekanan pada potensialitas, kreatifitas, dan inisiatif guru dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya.[12]
4.    Prinsip pengelolaan kelas (classroom management)
Berdasarakan uraian sebelumnya, tampak bahwa pengelolaan kelas bukanlah hal yang mudah dan ringan. Prinsip-prinsip pengelolaan kelas:
a.       Prinsip kehangatan dan antuasias. Dalam hubungan ini guru yang hanga dan akrab dengan peserta didik akan selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya, yang selanjutnya akan mendukung keberhasilan dalam melaksanakan pengelolaan kelas.
b.      Meciptakan berbagai tantangan yang memungkinkan seorang guru akan selalu semangat dan terus belajar dalam mengatasi berbagai hal yang dapat mengurangi kemungkinan terjadinya tingkah laku yang menyimpang.
c.       Penggunaan metode, pendekatan, teknik, gaya, media dan alat pembelajaran yang bervariasi yang dapay meningkatkan semangat belajar dan mnghilangkan kejenuhan.
d.      Penggunaan cara yang lebih fleksibel, luwes dan menyenangkan. Keadaan ini diharapkan dapat menghilangkan berbagai gangguan yang mungkin terjadi di dalam kelas.
e.       Mengupayakan hal-hal yang positif bagi peserta didik da menghindari sejau mungkin kesalahan yang dapat memancing peserta didik untuk bersikap negatif kepada guru.
f.       Mengedapankan sikap teladan di hadapan peserta didik yang selanjutnya dapat mendorong untuk senantiasa patuh dan taat kepada guru bukan disebabkan rasa takut melainkan karena rasa bangga dan kagum.[13]
B.     Pengaruh majerial kelas dalam proses pembelajaran
Pengelolaan kelas adalah inti dari suatu organisasi yang efektif. Seoranng manager yang efektif adalah seseorang yang mengoordinasi dan menyusun kegiatan untuk menemukan sasaran tertentu.[14]
Tugas utama guru adalah menciptakan suasana di kelas agar terjadi interaksi belajar mengajar yang dapat memotivasi peserta didik untuk belajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Untuk menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan semangat belajar, meningkatkan prestasi belajar , dan lebih memungkinkan guru memberikan bimbingan dan bantun terhadap peserta didik dalam proses pembelajaran, diperlukan pengorganisasian kelas yang memadai.
Dalam perannya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan pembelajaran serta merupakan aspek lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan yang baik ialah bersifat menantang dan memacu siswa untuk belajar, memberikan rasa ramah dan kepuasan dalam mencapai tujuan.[15]

Pengetian tersebut menunjukkan adanya beberapa variabel yang perlu dikelola secara sinergik, terpadu dan sistematik oleh guru, yakni:
1.      Ruang kelas, menunjukkan batasan lingkungan belajar.
2.      Usaha guru, tuntutan adanya dinamika kegiatan guru dalam mensiasati segala kemungkinan yang terjaadi dalam lingkungan  pembelajaran.
3.      Kondisi pembelajaran, merupakan batasan aktivitas yang harus diwujudkan.
4.      Pembelajaran yang optimal, merupakan ukuran kualitas proses yang mendorong mutu sebuah produk pembelajaran.[16]
Dengan mengkaji konsep pengelolaan kelas, mempelajari berbagai pendekatan dan mencobanya dalam berbagai situasi  kemudian dianalisis, akibatnya secara sistematis diharapkan agar guru akan dapat mengelola proses pembelajaran secara lebih baik.[17]
Pengelolaan kelas dilakukan dalam rangka: (1) meningkatkan kegiatan pembelajaran; (2) meningkatkan prestasi siswa dalam belajar; (3) menerapkan pendekatan belajar yang kreatif, variatif dan inovatif; (4) menjalin interaksi antara guru dengan peserta didik; (5) membuat kontrak belajar dengan peserta didik.[18]
Untuk melihat pengaruh manajerial kelas dalam proses pembelajaran, dapat dilihat dari indikator pengelolaan kelas yang baik, sebagai berikut:
1.      Kondisi belajar yang optimal, kondisi belajar yang nyaman, sejuk, tenang sehingga sangat membantu perhatian peserta didik pada materi pembelajaran.
2.      Menunjukkan sikap tanggap, perilaku positif atau negatif yang muncul di dalam kelas harus dapat disikapi dengan baik sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
3.      Memusatkan perhatian kelompok, dengan memusatkan perhatian secara terus menerus terhadap peserta didik dapat mempertahankan konsentrasi peserta didik disebabkan oleh ketidakpahaman peserta didik terhadap arah dan sasaran yang hendak dicapai.
4.      Memberikan petunjuk dan tujuan yang jelas, sering terjadi kurangnya konsentrasi pesertaa didik disebabkan oleh ketidakpahamannya terhadap arah dan sasaran pembelajaran yang hendak dicapai.
5.      Memberikan teguran dan penguatan, teguran diberikan untuk mengarahkan tingkah laku peserta didik, dan penguatan perlu dilakukan uuntuk memberkan respon positif dengan cara memberikan pujian dan penghargaan.[19]
Dengan demikian, pengelolaan kelas adalah merupakan kegiatan yang berupaya menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses pembelajaran. Kemudian dalam pengelolaan kelas ini termasuk pula menertibkan peserta didik yang melakukan berbagai kegiatan  yang tidak berkorelasi dengan kegiatan pembelajaran, atau suatu aktivitas yang mengganggu proses pembelajaran. Oleh karena itu, manajemen kelas menduduki posisi mayor dalam keseluruhan spectrum kegiatan pembelajaran.
Dengan adanya pengelolaan kelas maka dapat meningkatkan kegiatan pembelajaran, meningkatkan prestasi peserta didik, dan menerapkan pendekatan belajar kreatif, variatif dan inovatif.



[1]Sudarwan Danim dan Yunan Danim, Administrasi Sekolah dan Manajemen Kelas, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2010), h. 97.
[2] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa, (Jakarta: PT. Grafindo Persada), h. 8.
[3]Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2002).
[4] Martinis Yamin dan Maisah, Manajmen Pembelajaran Kelas, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2011), h. 34.
[5] Ibid, h. 68.
[6] Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Srategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), h. 173.
[7] Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas, (Jakarta: PT Gunung Agung, 1985), h. 116.
[8]Wijaya dan Rusyan, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), h. 113.

[9] User Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 10.
[10] Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Op. Cit., h. 177-178.
[11] Ibid., h. 177-179.
[12] Ibid.,179-184.
[13] Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Pranada Media Group, 2009), h. 350.
[14] Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Gramedia, 2006), h. 263.
[15] Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching, (Ciputat: PT. Ciputat Press, 2010), h. 69.
[16] Pupuh Fathurohman, Strategi Belajar Mengajar – Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umun & Konsep  Islami, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), h. 103.
[17] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), h. 123.
[18] Iskandar, Psikologi Pendidikan, (Cipayung-Ciputat: Gaung Persada Press, 2009), h. 210.
[19] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Op. Cit., h. 187-190.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Pengelolaan kelas merupakan kemampuan guru dalam proses mengelola sumber daya kelas dari mulai perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan tujuan untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Tujuan pengelolaan kelas adalah menyediakan fasilitas bagi kegiatan pembelajaran. Fasilitas yang disediakan itu meemuungkinkan peserta didik bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, ssuasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada peserta didik. Dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas, ada beberapa pendekatan yang dilakukan antara lain: pendekatan kekuasaan, kebebasan, perubahan prilaku dan lain sebagainya. Mengingat pengelolaan kelas bukanlah sesuatu yang mudah maka ada beberapa prinsip yang bisa gunakan antara lain: prinsip kehangatan dan antusias, menciptakan berbagai tantangan, prinsip fleksibel dan lain sebagainya.
2.      Pengelolaan kelas sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran terutama dalam upaya menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses pembelajaran. Kemudian dalam pengelolaan kelas ini termasuk pula menertibkan peserta didik yang melakukan berbagai kegiatan  yang tidak berkorelasi dengan kegiatan pembelajaran, atau suatu aktivitas yang mengganggu proses pembelajaran, Dengan pengelolaan kelas yang efektif juga dapat memotivasi peserta didik untuk belajar dengan baik dan sungguh-sungguh, menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan semangat belajar, serta dapat meningkatkan prestasi belajar. Oleh karena itu, manajemen kelas menduduki posisi mayor dalam keseluruhan spectrum kegiatan pembelajaran.
B.     Saran
Pengelolaan kelas merupakan hal yang sangat urgen dan memiliki pengaruh yang besar dalam proses pembelajaran, Oleh karena itu, seorang guru atau pendidik harus memahami konsep dasar pengelolaan kelas dan mengaktualisasikannya dalam proses pembelajaran dalam rangka menciptakan suasana optimal yang akan mendukung pencapaian tujuan educatif secara efektif dan efisien



DAFTAR PUSTAKA

Danim Sudarwan, dan Yunan Danim, Administrasi Sekolah dan Manajemen Kelas. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2010.

Arikunto, Suharsimi, Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2002.

Yamin, Martinis dan Maisah, Manajmen Pembelajaran Kelas. Jakarta: Gaung Persada Press, 2011.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Azwan Zain, Srategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006.

Nawawi, Hadari, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta: PT Gunung Agung, 1985.

Wijaya dan Rusyan, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.

Usman, User, Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.

Nata, Abuddin, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta: Pranada Media Group, 2009.

Djiwandono, Sri Esti Wuryani, Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia, 2006.

Sabri, Ahmad, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching. Ciputat: PT. Ciputat Press, 2010.

Fathurohman, Pupuh, Strategi Belajar Mengajar – Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umun & Konsep  Islami. Bandung: PT. Refika Aditama, 2007.

Rohani, Ahmad, Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004.

Iskandar, Psikologi Pendidikan. Cipayung-Ciputat: Gaung Persada Press, 2009.

SM, Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM. Semarang: Rasail Media Group, 2008.



[1] Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: Rasail Media Group, 2008), h. 29.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;