BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sumber daya manusia yang
berkualitas merupakan hal yang penting bagi suatu negara untuk menjadi negara
maju, kuat, makmur dan sejahtera. Upaya peningkatan kualitas sumber daya
manusia tidak bisa terpisah dengan masalah pendidikan bangsa. Ada beberapa syarat
utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan pendidikan agar dapat
berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) salah
satunya adalah guru dan tenaga kependidikan yang yang profesional.
Guru memiliki andil yang
sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat
berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan
hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru malaksanakan dua kegiatan pokok
yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada
hakikatnya adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di
sekitar peserta didk. Semua komponen pengajaran yang meliputi tujuan, bahan
pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi diperankan
secara optimal guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pengelolaan kelas tidak
hanya berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik dan rutinitas. Kegiatan
pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana dan
kondisi kelas.
Belajar merupakan proses
yang sangat penting bagi peserta didik. Oleh karena itu, Seorang guru dituntut
untuk dapat mengembangkan program pembelajaran yang optimal, sehingga terwujud
proses pembelajaran yang efektif dan efisien.[1]
Kelas yang kondusif adalah lingkungan pembelajaran
yang mendorong terjadinya proses pembelajaran
yang intensif dan efektif. Strategi belajar apapun yang digunakan guru akan
menjadi tidak efektif jika tidak
didukung dengan iklim dan kondisi kelas yang kondusif. Oleh sebab itu, sudah selayaknya kelas dikelola dengan baik,
profesional, dan berkelanjutan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan maka yang menjadi
pokok permasalahan adalah “ classroom management”. Dari pokok
permasalahan tersebut, dirumuskan sub masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep dasar
pengelolaan kelas?
2. Bagaimana pengaruh manajerial
kelas terhadap proses pembelajaran?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep dasar pengelolaan kelas (classroom management)
1.
Pengetian pengelolaan kelas (classroom management)
Secara etimologis, manajemen kelas terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Seperti
yang diungkapkan oleh Sudarwan Danim bahwa manajemen kelas (classroom
management) dibangun oleh dua kata, yaitu manajemen (management),
dan kelas dalam makna ruang kelas (classroom).[1]
Kata management merupakan Bahasa
Inggris, yang selanjutnya dalam bahasa
Indonesia menjadi manajemen yang berarti pengelolaan.
Menurut Winarno dalam Suharsimi Arikunto bahwa pengelolaan adalah substantifa
dari mengelola, yang berarti suatu tindakan yang dimulia dari penyusunan data,
merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan sampai dengan pengawasan dan
penilaian.[2]
Kata manajemen awalnya hanya sangat populer di dunia bisnis dan komersial.
Di dunia pendidikan lebih dikenal istilah administrasi. Karena itu, di
lingkungan institusi pendidikan sangat populer istilah administrasi pendidikan,
administrasi sekolah, dan administrasi kelas. Jika ditilik kerja atau
fungsinya, administasi dan manajemen boleh dikatakan sama. Meskipun ada para
ahli yang mengatakan bahwa manajemen merupakan inti dari kegiatan atau proses administrasi.
Tetapi kini kata manajemen semakin populer di dunia bisnis, pemerintahan,
maupun pendidikan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kelas didefinisikan sebagai ruang
tempat belajar di sekolah.[3] Pada tataran paling awam,
kelas bermakna “tingkatan” untuk menunjukan status atau posisi siswa di sekolah
tertentu, misalnya kelas I, kelas II, dan sebagainya.
Menurut Suharsimi yang dikutip oleh
Martinis Yamin menyebutkan bahwa kelas berarti sekelompok peserta didik dalam
waktu yang sama menerima pembelajaran dari guru yang sama.[4]
Berdasarkan pengertian tersebut, Mulyasa sebagaimana yang dikutip Martinis
Yamin dan Maisah mendefenisikan pengelolaan kelas sebagai keterampilan guru
untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika
terjadi gangguan dalam pembelajaran.[5]
Senada dengan pendapat Mulyasa, Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan juga
memandang bahwa pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan
dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi
gangguan dalam pembelajaran.[6]
Menurut Hadari Nawawi, Pengelolaan/manajemen kelas merupakan kemampuan guru
atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan
yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang
kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan
secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan
kurikulum dan perkembangan murid.[7]
Sedangkan menurut Wijaya dan Rusyan, manajemen/pengelolaan kelas adalah
usaha sadar dari pihak guru untuk menata kehidupan kelas dimulai dari
perencanaan kurikulum (meliputi: tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran,
metode mengajar, alat peraga/media, evaluasi), pengorganisasian proses belajar
mengajar (meliputi: absensi/daftar kehadiran, kepemimpina, sikap, suara,
pembinaan hubungan baik, pemilihan sumber belajar, pemanfaatan sumber belajar),
pengaturan lingkungan (meliputi: ruang belajar, pengaturan tempat duduk,
ventilasi dan cahaya, pengaturan penyimpinan barang) untuk memaksimumkan
efisiensi, memantau kemajuan siswa dan mengantisifasi maaslah-masalah yang akan
timbul.[8]
Pengelolaan kelas (classroom management) dalam konteks belajar
mengajar diartikan sebagai jenis kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk
menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal untuk membelajarkan subjek
didik. Berbagai kegiatan yang dimaksudkan adalah pengelolaan yang secara
sengaja diciptakan agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara
kondusif.
Berdasarkan pendapat di atas, penulis berkesimpulan bahwa manajemen kelas
merupakan kemampuan guru dalam proses mengelola sumber daya kelas dari mulai
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan tujuan untuk mengoptimalkan
proses pembelajaran.
2.
Tujuan pengelolaan kelas (classroom management)
Menurut usman, pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu:
a.
Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan
fasilitas pebelajaran untuk mencapai hasil yang baik.
b.
Tujuan khusus pengelolaan kelas adalah mengembangkan kemampuan
peserta didik dalam menggunakan pembelajaran, menyediakan kondisi-kondisi yang
memungkinkan peserta didik bekerja dan belajar, serta membantu peserta didik
untuk memperoleh hasil yang diharapkan.[9]
Sedangkan menurut suharsimi rikunto yang dikutip oleh Saiful Bahri
djamarah berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap peserta
didik di kelas dapat bekerja dngan tertib sehingga segera mencapai tujuan
pembelajaran secara efektif dan efisien. Menurutnya sebagai indikator kelas
yang tertib adalah apabila:
a.
Setiap peserta didik terus bekerja, tidak macet, aartinya tidak ada
yang berhenti karena tidak tahu akan tugas yang harus yang dilakukan atau tidak
tahu melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.
b.
Setiap peserta didik terus melakukan pekerjaan tanpa membuang
waktu, setiap peserta didik akan bekerja
secepatnya agar lekas menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya.[10]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pengelolaan kelas
adalah menyediakan, menciptkan dan memelihara kondisi yang optimal di dalam
kelas sehingga peserta didik dapat belajar dan bekerja dengan baik.
Dengan adanya tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya teah
tekandung dalam tujuan pendidikan. Maka tujuan pengelolaan kelas adalah
menyediakan fasilitas bagi kegiatan pembelajaran. Fasilitas yang disediakan itu
meemuungkinkan peserta didik bekerja, terciptanya suasana sosial yang
memberikan kepuasan, ssuasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan
sikap serta apresiasi pada peserta didik.
3.
Pendekatan pengelolaan kelas (classroom management)
Pengelolaan kelas bukanlah sesuatu yang bediri sendiri, tetapi
terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan peserta didik adalah faktor utama
yagn dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan semangat peserta didik
baik secara berkelompok maupun secara individual.[11]
Lahirnya interaksi yang optimal bergantung pada pendekatan yang
dilakukan guru dalam rangka pengelolaan kelas. Berbagai pendekatan yang dapat
dilakukan adalah sebagi berikut:
a.
Pendekatan Kekuasaan, Pengelolaan kelas diartikan sebagai proses
untuk mengontrol tingkah laku peserta
didik.
b.
Pendekatan Ancaman, pendekatan ini juga memandang bahwa pengelolaan
kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik.
c.
Pendekatan kebebasan, pengelolan diartikan sebagai suatu proses
untuk membantu peserta didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan
dan di mana saja.
d.
Pendekatan pembelajaran, pendekatan ini didasarkan atas suatu
anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya
masalah tingkah laku peserta didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa
dicegah.
e.
Pendekatan perubahan tingkah laku, sesuai dengan namanya,
pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku
peserta didik.
f.
Pendekatan suasana emosi dan hubungan sosial. Pendekatan
pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial di dalam
kelas sebagai kelompok individu cenderung pada pandangan psikologi klinis da
konseling (penyuluhan).
g.
Pendekatan proses kelompok.
Pendekatan ini diartikan sebagai suatu
proses untuk menciptakan kelas sebagai suatu sistem sosial, di mana proses kelompok merupakan yang paling
utama.
h.
Pendekatan elektis dan pluralistik. Pendekatan elektis (electic
approach) ini menekanan pada potensialitas, kreatifitas, dan inisiatif guru
dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang
dihadapinya.[12]
4.
Prinsip pengelolaan kelas (classroom management)
Berdasarakan uraian sebelumnya, tampak bahwa pengelolaan kelas
bukanlah hal yang mudah dan ringan. Prinsip-prinsip pengelolaan kelas:
a.
Prinsip kehangatan dan antuasias. Dalam hubungan ini guru yang
hanga dan akrab dengan peserta didik akan selalu menunjukkan antusias pada
tugasnya atau pada aktifitasnya, yang selanjutnya akan mendukung keberhasilan
dalam melaksanakan pengelolaan kelas.
b.
Meciptakan berbagai tantangan yang memungkinkan seorang guru akan
selalu semangat dan terus belajar dalam mengatasi berbagai hal yang dapat
mengurangi kemungkinan terjadinya tingkah laku yang menyimpang.
c.
Penggunaan metode, pendekatan, teknik, gaya, media dan alat
pembelajaran yang bervariasi yang dapay meningkatkan semangat belajar dan
mnghilangkan kejenuhan.
d.
Penggunaan cara yang lebih fleksibel, luwes dan menyenangkan.
Keadaan ini diharapkan dapat menghilangkan berbagai gangguan yang mungkin
terjadi di dalam kelas.
e.
Mengupayakan hal-hal yang positif bagi peserta didik da menghindari
sejau mungkin kesalahan yang dapat memancing peserta didik untuk bersikap
negatif kepada guru.
f.
Mengedapankan sikap teladan di hadapan peserta didik yang
selanjutnya dapat mendorong untuk senantiasa patuh dan taat kepada guru bukan
disebabkan rasa takut melainkan karena rasa bangga dan kagum.[13]
B.
Pengaruh majerial kelas dalam proses pembelajaran
Pengelolaan kelas adalah inti dari suatu organisasi yang efektif.
Seoranng manager yang efektif adalah seseorang yang mengoordinasi dan menyusun
kegiatan untuk menemukan sasaran tertentu.[14]
Tugas utama guru adalah menciptakan suasana di kelas agar terjadi
interaksi belajar mengajar yang dapat memotivasi peserta didik untuk belajar
dengan baik dan sungguh-sungguh. Untuk menciptakan suasana yang dapat
menumbuhkan semangat belajar, meningkatkan prestasi belajar , dan lebih
memungkinkan guru memberikan bimbingan dan bantun terhadap peserta didik dalam
proses pembelajaran, diperlukan pengorganisasian kelas yang memadai.
Dalam perannya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu
mengelola kelas sebagai lingkungan pembelajaran serta merupakan aspek
lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan yang baik ialah bersifat
menantang dan memacu siswa untuk belajar, memberikan rasa ramah dan kepuasan
dalam mencapai tujuan.[15]
Pengetian tersebut menunjukkan adanya beberapa variabel yang perlu
dikelola secara sinergik, terpadu dan sistematik oleh guru, yakni:
1.
Ruang kelas, menunjukkan batasan lingkungan belajar.
2.
Usaha guru, tuntutan adanya dinamika kegiatan guru dalam mensiasati
segala kemungkinan yang terjaadi dalam lingkungan pembelajaran.
3.
Kondisi pembelajaran, merupakan batasan aktivitas yang harus diwujudkan.
4.
Pembelajaran yang optimal, merupakan ukuran kualitas proses yang
mendorong mutu sebuah produk pembelajaran.[16]
Dengan mengkaji konsep pengelolaan kelas, mempelajari berbagai
pendekatan dan mencobanya dalam berbagai situasi kemudian dianalisis, akibatnya secara
sistematis diharapkan agar guru akan dapat mengelola proses pembelajaran secara
lebih baik.[17]
Pengelolaan kelas dilakukan dalam rangka: (1) meningkatkan kegiatan
pembelajaran; (2) meningkatkan prestasi siswa dalam belajar; (3) menerapkan
pendekatan belajar yang kreatif, variatif dan inovatif; (4) menjalin interaksi
antara guru dengan peserta didik; (5) membuat kontrak belajar dengan peserta
didik.[18]
Untuk melihat pengaruh manajerial kelas dalam proses pembelajaran,
dapat dilihat dari indikator pengelolaan kelas yang baik, sebagai berikut:
1.
Kondisi belajar yang optimal, kondisi belajar yang nyaman, sejuk,
tenang sehingga sangat membantu perhatian peserta didik pada materi
pembelajaran.
2.
Menunjukkan sikap tanggap, perilaku positif atau negatif yang
muncul di dalam kelas harus dapat disikapi dengan baik sehingga dapat
meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
3.
Memusatkan perhatian kelompok, dengan memusatkan perhatian secara
terus menerus terhadap peserta didik dapat mempertahankan konsentrasi peserta
didik disebabkan oleh ketidakpahaman peserta didik terhadap arah dan sasaran
yang hendak dicapai.
4.
Memberikan petunjuk dan tujuan yang jelas, sering terjadi kurangnya
konsentrasi pesertaa didik disebabkan oleh ketidakpahamannya terhadap arah dan
sasaran pembelajaran yang hendak dicapai.
5.
Memberikan teguran dan penguatan, teguran diberikan untuk
mengarahkan tingkah laku peserta didik, dan penguatan perlu dilakukan uuntuk
memberkan respon positif dengan cara memberikan pujian dan penghargaan.[19]
Dengan demikian, pengelolaan kelas adalah merupakan kegiatan yang
berupaya menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya
proses pembelajaran. Kemudian dalam pengelolaan kelas ini termasuk pula
menertibkan peserta didik yang melakukan berbagai kegiatan yang tidak berkorelasi dengan kegiatan pembelajaran,
atau suatu aktivitas yang mengganggu proses pembelajaran. Oleh karena itu, manajemen kelas menduduki posisi mayor dalam keseluruhan spectrum
kegiatan pembelajaran.
Dengan adanya pengelolaan kelas maka dapat meningkatkan kegiatan
pembelajaran, meningkatkan prestasi peserta didik, dan menerapkan pendekatan
belajar kreatif, variatif dan inovatif.
[1]Sudarwan Danim dan Yunan
Danim, Administrasi Sekolah dan Manajemen Kelas, (Bandung: CV.
Pustaka Setia, 2010), h. 97.
[2] Suharsimi
Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa, (Jakarta: PT. Grafindo Persada), h.
8.
[4] Martinis Yamin
dan Maisah, Manajmen Pembelajaran Kelas, (Jakarta: Gaung Persada Press,
2011), h. 34.
[5] Ibid,
h. 68.
[6] Syaiful Bahri
Djamarah dan Azwan Zain, Srategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2006), h. 173.
[7] Hadari Nawawi, Organisasi
Sekolah dan Pengelolaan Kelas, (Jakarta: PT Gunung Agung, 1985), h.
116.
[8]Wijaya dan
Rusyan, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 1994), h. 113.
[9] User Usman, Menjadi
Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 10.
[10] Syaiful Bahri Djamarah
dan Azwan Zain, Op. Cit., h. 177-178.
[11] Ibid.,
h. 177-179.
[12] Ibid.,179-184.
[13] Abuddin Nata, Perspektif
Islam tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Pranada Media Group, 2009), h.
350.
[14] Sri Esti Wuryani
Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Gramedia, 2006), h.
263.
[15] Ahmad Sabri, Strategi
Belajar Mengajar dan Micro Teaching, (Ciputat: PT. Ciputat Press, 2010), h.
69.
[16] Pupuh
Fathurohman, Strategi Belajar Mengajar – Strategi Mewujudkan Pembelajaran
Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umun & Konsep Islami, (Bandung: PT. Refika Aditama,
2007), h. 103.
[17] Ahmad Rohani, Pengelolaan
Pengajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), h. 123.
[18] Iskandar, Psikologi
Pendidikan, (Cipayung-Ciputat: Gaung Persada Press, 2009), h. 210.
[19] Syaiful Bahri
Djamarah dan Aswan Zain, Op. Cit., h. 187-190.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa:
1.
Pengelolaan kelas merupakan kemampuan guru dalam
proses mengelola sumber daya kelas dari mulai perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi dengan tujuan untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Tujuan pengelolaan kelas adalah menyediakan fasilitas bagi kegiatan
pembelajaran. Fasilitas yang disediakan itu meemuungkinkan peserta didik
bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, ssuasana
disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada
peserta didik. Dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas, ada beberapa
pendekatan yang dilakukan antara lain: pendekatan kekuasaan, kebebasan,
perubahan prilaku dan lain sebagainya. Mengingat pengelolaan kelas bukanlah
sesuatu yang mudah maka ada beberapa prinsip yang bisa gunakan antara lain:
prinsip kehangatan dan antusias, menciptakan berbagai tantangan, prinsip
fleksibel dan lain sebagainya.
2.
Pengelolaan kelas sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran
terutama dalam upaya menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi
terjadinya proses pembelajaran. Kemudian dalam pengelolaan kelas ini termasuk
pula menertibkan peserta didik yang melakukan berbagai kegiatan yang tidak berkorelasi dengan kegiatan
pembelajaran, atau suatu aktivitas yang mengganggu proses pembelajaran, Dengan
pengelolaan kelas yang efektif juga dapat memotivasi peserta didik untuk
belajar dengan baik dan sungguh-sungguh, menciptakan suasana yang dapat
menumbuhkan semangat belajar, serta dapat meningkatkan prestasi belajar. Oleh karena itu, manajemen kelas menduduki posisi mayor dalam keseluruhan spectrum
kegiatan pembelajaran.
B.
Saran
Pengelolaan kelas
merupakan hal yang sangat urgen dan memiliki pengaruh yang besar dalam proses
pembelajaran, Oleh karena itu, seorang guru atau pendidik harus memahami konsep
dasar pengelolaan kelas dan mengaktualisasikannya dalam proses pembelajaran dalam
rangka menciptakan suasana optimal yang akan mendukung pencapaian tujuan educatif
secara efektif dan efisien
DAFTAR PUSTAKA
Danim Sudarwan, dan Yunan Danim, Administrasi
Sekolah dan Manajemen Kelas. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2010.
Arikunto, Suharsimi, Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: PT.
Grafindo Persada.
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2002.
Yamin, Martinis dan Maisah, Manajmen Pembelajaran Kelas.
Jakarta: Gaung Persada Press, 2011.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Azwan Zain, Srategi Belajar Mengajar.
Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006.
Nawawi, Hadari, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta:
PT Gunung Agung, 1985.
Wijaya dan Rusyan, Kemampuan Dasar Guru dalam
Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.
Usman, User, Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2009.
Nata, Abuddin, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran.
Jakarta: Pranada Media Group, 2009.
Djiwandono, Sri Esti Wuryani, Psikologi Pendidikan. Jakarta:
PT. Gramedia, 2006.
Sabri, Ahmad, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching.
Ciputat: PT. Ciputat Press, 2010.
Fathurohman, Pupuh, Strategi Belajar Mengajar – Strategi
Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umun &
Konsep Islami. Bandung: PT. Refika
Aditama, 2007.
Rohani, Ahmad, Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2004.
Iskandar, Psikologi Pendidikan. Cipayung-Ciputat: Gaung
Persada Press, 2009.
SM, Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM. Semarang:
Rasail Media Group, 2008.
[1] Ismail SM, Strategi
Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: Rasail Media Group,
2008), h. 29.

0 komentar:
Posting Komentar