BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Muhammad Ali secara turun temurun
dinyatakan sebagai penguasa Mesir.Keputusan tersebut berdasarkan keputusan
konfrensi di London pada tanggal 13 februari 1841. Disinilah cikal bakal kekuasaan
di Mesir selama satu setengah abad. Dan
akhirnya jatuh pada kudeta pada tahun 1952 atas raja Farouq.
Kekuasaan yang bercorak
aristokrasi yang dipinpin oleh Muhammad Ali awalnya untuk melakukan Pan Arabisme
tetapi tidak berhasil karena dia sendiri berasal dari Albania.
Keadaan yang demikian itu
menyebabkan perpecahan revolusi pada tanggal 23 juli 1952.Yang tujuannya untuk
menumbangkan serta merubah system kerajaan yang bersifat absolut.Gerakan ini
dipimpin oleh Gamal Abdul Nasser, kemudian menetapkan Jendral Muhammad Najib
sebagai presiden.Tetapi setahun kemudian dipecat dan digantikan oleh Jamal
Abdul Nassirsebagai presiden.
Jamal Abdul Nassirterlahir
sebagai salah satu negarawan terkemuka dalam sejarah Mesir. Jamal Abdul Nassirmerupakan
presiden kedua yang pernah memimpin Mesir. Banyak
hal yang telah dilalui oleh Jamal Abdul Nassirdalam menjalankan kewajibannya
sebagai presiden Mesir kedua. Salah satu hal yang paling terkenal dari masa
kepemimpinan Jamal Abdul Nassiradalah gaya kepemimpinannya yang
karismatik.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana biografi Gamal Abdul Nasser
2.
Bagaimana Nasionalisme dan Sosalisme Arab
yang dipimpin oleh Gamal Abdul Nasser.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Gamal Abdel Nasser
Jamal
Abdul Nassir (Arab:جمال عبد الناصر) lahir pada Tanggal 15 Januari 1918. Jamal Abdul Nassirdilahirkan
di Banny Mor Asyout, Iskandariah (Alexandria), Mesir[1]. Jamal Abdul Nassir tinggal
selama 8 tahun di Banny Mor Asyout. Beliau
mempelajari tradisi Mesir Selatan yang ketat dan murah hati tersebut. Beliau
pindah ke kota syout ke Alexandria kemudian ke Kairo. Jamal
Abdul Nassirmerupakan orang asli berkebangsaan Mesir. Beliau
berpindah-pindah tempat
tinggal adalah karena pekerjaan ayahnya sebagai ketua dalam pelayanan Pos.Ibunya meninggal pada 1926. Gamal menghabiskan 10 tahun di Kairosampai ia menerima ijazah SMA-nya dari sekolah "Nahda" pada tahun 1937. Pada tahun-tahun
ini Gamal adalah bagian dari banyak demonstran menentang kolonisasi Inggris di
mana dia terluka dalam salah satu dari mereka dan mendapat bekas
luka di wajahnya yang tetap sampai ia meninggal. Tahun 1937 adalah
tahun ketika Nasser bergabung dengan sekolah militer di mana ia lulus pada
tahun 1938 untuk bergabung dengan pleton ketiga dalam Asyout disinilah ia
bertemu dengan Anwar El Sadat, dan Zakaria Mohyi El Deen yang kemudian bergabung dalam organisasi
"Petugas Gratis".
Pada tahun 1939 Jamal Abdul Nassirdipindahkan ke Alexandria dimana beliau bertemu dengan Abdul Hakeem Amer yang menjadi sahabatnya, dan memainkan peran kontroversial dalam
hidupnya[2].
Mesir adalah kerajaan yang
diperintah oleh Inggris dan kepala negara adalah Raja Farouk, ribuan orang
tentara Inggris berada di tanah Mesir untuk melindungi United Kingdom
yang berkepentingan di wilayah tersebut. Bukan untuk mengulang
revolusi 1882, atau revolusi 1919, Inggris bekerja keras untuk mencegah
perkembangan tentara Mesir. Korupsi
menyebar dengan masing-masing pemerintah, istana kerajaan dibantu oleh campur
tangan Inggris dalam urusan internal. Lingkungan
seperti mengumpulkan sekelompok perwira muda untuk memerangi korupsi dan
bekerja untuk pengembangan Mesir dan Mesir. Tahun 1942, Jamal Abdul Nassir dipindahkan
ke Sudan dengan Abdul Hakeem Amer sehingga membuat persahabatan mereka menjadi
lebih kuat, dan mereka bertukar ide-ide pemberontakan tentang masa
depan Mesir. Selagi bertugas di Sudan selama akhir 1940-an, ia dan tiga perwira
lainnya mendirikan Organisasi revolusioner "Petugas Gratis".
Tujuan mereka adalah penggulingan rezim pendudukan Inggris dan boneka raja
Mesir. Perang 1948 adalah pengapian untuk Organisasi revolusioner "Petugas Gratis".
Ini memberi petugas bebas waktu
untuk bertemu, dan berbagi pikiran mereka tentang masa depan Mesir dan dikutip
dari buku harian Nasser "... Kami sedang berjuang di Palestina, dan impian
kami di Mesir.Peluru kami targetkan musuh namun hati kami dengan bangsa kami
yang tersisa untuk serigala ".perang seperti menambahkan banyak
kepribadian Nasser, itu memberinya rasa percaya diri, dan menambahkan lebih ke
alam pemberontakannya untuk Kebebasan. Nasser memperoleh reputasi
kepemimpinannya setelah pertempuran "Falouga" di mana ia berhasil
berjuang tanpa dukungan cadangan, dan di bawah pengepungan terhadap pasukan
bersenjata Israel, ia juga terluka. Organisasi rahasia menjadi aktif pada 1949,
dimulai oleh komite perwira muda yang termasuk Gamal Abdel Nasser, Kamal El
Deen Hussein, Hassan Ibrahim, Khaled Mohey El Deen, dan Abdul Menim Raouf.
Perwira baru juga ditambahkan ke dalam organisasi ini.
Pada tahun 1950, Jamal Abdul Nassirdipilih
menjadi Ketua Organisasi revolusioner "Petugas Gratis".Mereka
menghadapi kendala banyak. Setiap
kegiatannya seperti sedang dipantau oleh "polisi politik" yang
bertanggung jawab untuk menghentikan tindakan terhadap istana kerajaan atau
para personil Inggris. Hal
ini membuat upaya-upaya merekrut petugas baru tugas yang sulit untuk dijalankan,
banyak investigasi berlangsung sebelum menambahkan seorang perwira baru untuk
organisasi ini.
Pada
bulan November 1949 Organisasi mendistribusikan brosur pertama mereka yang membahas Kalahkan Perang di
Palestina. Brosur terus dikirim
oleh Mail dan akan dikirimkan dengan
tangan menurut sektor
ini bahwa petugas bebas yang menyampaikannya (Air Force,Infanteri ... dll).
Pada
tahun 1951 Organisasi ini mulai koran yang
disebut "suara petugas bebas" yang telah
dikirim ke 700 petugas Mesir melalui pos. Istana kerajaan memiliki informasi
tentang organisasi tersebut, dan Raja Farouk mencoba untuk menghancurkannya sebelum mengancam mahkotanya. Namun Organisasi
terus bekerja untuk tujuannya, dan pejabat lebih banyak disusun hingga bulan
Juli 1952 tanggal revolusi.
Jamal
Abdul Nassirmeduduki masa pemerintahan di Mesir dengan kurun waktu 23 Juni 1956 – 28 September 1970. Beliau
menggantikan masa pemerintahan Muhammad Naguib. Jamal
Abdul Nassirmenganut agama Islam sunni. Beliau tergabung dalam partai politik
bernama Persatuan Arab Sosialis. Istrinya
adalah Tahia Kazem. Jamal
Abdul Nassirmeninggal di umurnya yang ke-52 tahun yaitu pada 28 September 1970
di Kairo.
1. Gaya Kepemimpinan Jamal Abdul Nassirdi Mesir
Jamal Abdul Nassirterkenal dan
identik sebagai pemimpin yang karismatik. Pemimpin yang karismatik dapat
dikatakan unik. Cara
mereka memimpin kuat dan aneh. Seorang
pemimpin karismatik mampu menciptakan sesuatu secara hebat, tindakannya
disahkan oleh acuan yang telah ada di wilayahnya
masing-masing. Kepribadian Nasser sederhana dan tenang merupakan
salah satu ciri-ciri bahwa Nasser adalah pemimpin yang karismatik.
Ikatan perasaan dari hubungan
antara pengikut dan pemimpin berubah sesuai dengan kebudayaan dan perputaran
sejarah, meskipun dengan segala kesulitan ini keberadaan dari kepemimpinan
karismatik adalah nyata dan sangat penting dalam analisis mengenai politik
timur tengah.
Dengan kepribadiannya yang
menunjukan kekuatan, dikombinasikan dengan kemampuan untuk berbicara langsung
kepada masa. Nasser, kelihatannya telah
menjadi sebuah perwujudan dari aspirasi masyarakat. Ia tumbuh untuk merespon komitmen
mereka yang sungguh-sungguh. Jamal Abdul Nassirjuga merupakan salah satu
revolusioner Mesir yang telah berhasil mengusir Inggris dari Mesir setelah 72
tahun berkuasa. Jamal
Abdul Nassirmembuat Mesir keluar dari kemiskinan dan menuju kemakmuran.Beliau
merupakan tokoh yang terkenal di Semenanjung Arab.
Nasser
memperkenalkan sistem politik baru, itu disebut sosialisme Arab, dengan sistem
satu partai dan dengan Islam sebagai agama resmi. Dengan
program ini beliau menyita 243.000 hektar (2.430 km ²) tanah pertanian dari
sekelompok kecil pemilik tanah yang kaya dan didistribusikan secara merata
kepada penduduk. Pada
masanya menjadi presiden, beliau menasionalisasi bank-bank dan industri. Pada
bulan Juli, 1956, Nasser mengumumkan ke kerumunan besar di Manshia, Alexandria
dan, melalui Radio Kairo, ke seluruh Dunia Arab bahwa ia adalah nasionalisasi
Terusan Suez Perusahaan dan menciptakan seorang Mesir Canal Authority untuk
mengelola Canal. Seluruh Dunia Ketiga sangat senang dan gembira.Tidak ada ada
simbol kuat dari dominasi kolonial Barat dan legenda hegemoni imperialisme
Barat dan lebih dari Terusan Suez. Tetapi ada kekhawatiran tentang konsekuensi
yang akan didapatkan, pasti Barat tidak akan mengizinkan Nasser untuk berhasil.
AS dan Inggris menarik dukungan dijanjikan untuk pembangunan Aswan baru. Dia
juga melanjutkan pembelian peralatan militernya dari negara-negara blok Soviet.
Dia telah pergi ke sana setelah ditolak oleh Barat, yang diduga berencana untuk
menggunakan senjata terhadap Israel.
Nasionalisasi
Terusan Suez disambut oleh invasi Israel dari Semenanjung Sinai dan invasi
Anglo-Perancis Zona Terusan.Meskipun pasukan Mesir menderita kekalahan militer
tetapi dengan diplomasi Nasser, pasukan invasi itu diletakkan di bawah tekanan
dari PBB dan Amerika Serikat, dan harus mundur.
Mesir
menyimpan kepemilikan penuh dari bantuan Bendungan Terusan Suez dengan AS
dibersihkan dan dibuka kembali pada bulan April 1957.Semua milik Inggris dan
Perancis di Mesir diasingkan.Sekitar 3.000 warga negara Inggris dan Perancis
diusir, dan ribuan lainnya memutuskan untuk pergi. Inggris dan Prancis berusaha
untuk membalas dengan penetapan blokade ekonomi dari Mesir, tetapi tindakan itu
tidak efektif, ia juga berhasil mendapatkan dukungan Soviet untuk pembangunan
bendungan, yang selesai 14 tahun kemudian. Karena kebijakan-kebijakan
ekonominya khususnya pembangunan Dam dan Bendungan untuk mengambil air ke darat
un-irigasi, Mesir muncul dari negara miskin menjadi negara makmur. Pada saat ini Nasser telah menjadi
pahlawan di dunia Arab. Pada tahun 1958 Syria dan Mesir bersatu di bawah
kepresidenannya, membentuk Republik Arab Bersatu, berharap bahwa suatu hari
semua bangsa Arab akan bergabung, tetapi serikat Mesir-Suriah, namun bubar pada
2. Kontribusi Jamal Abdul
Nassirdalam Bidang Kemiliteran
Jamal
Abdul Nassirmerupakan tokoh yang aktif di bidang militer.Sebelum dirinya masuk
ke dunia politik dan menjadi presiden Mesir, beliau terjun di dunia
kemiliteran. Di akademi militer, Jamal Abdul Nassiraktif bergabung dengan
militer Mesir yang ikut menentang penjajahan dan kekuasaan asing.
Pada tahun 1948, Jamal Abdul Nassirikut dalam Perang Kemerdekaan
Israel.Pada saat mengikuti perang itu Jamal Abdul Nassirberpangkat mayor.
Perang Arab-Israel 1948, atau
disebut juga sebagai "Perang Kemerdekaan" atau "Perang
Pembebasan" oleh orang Israel, adalahkonflik bersenjata pertama dari serangkaian
konflik yang terjadi antara Israel dan tetangga-tetangga Arabnya dalam konflik Arab-Israel. Bagi orang-orang Palestina,
perang ini menandai awal dari rangkaian kejadian yang disebut sebagai
"Bencana" (Bahasa Inggris:
"The Catastrophe", Bahasa Arab:
النكبة).
Pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa memutuskan
untuk membagi wilayah Mandat Britania atas Palestina.Tetapi
hal ini ditentang keras oleh negara-negara Timur Tengah lainnya
dan juga banyak negeri-negeri Muslim.Kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh
wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini.
Sedangkan kota Yerusalem yang
dianggap suci, tidak hanya oleh orang Yahudi tetapi juga orang Muslim dan Kristen,
akan dijadikan kota internasional.
Israel diproklamasikan pada
tanggal 14 Mei 1948 dan sehari kemudian langsung
diserbu oleh tentara dari Lebanon, Suriah, Yordania,Mesir, Irak dan negara Arab lainnya.
Tetapi Israel bisa memenangkan peperangan ini dan malah merebut kurang lebih
70% dari luas total wilayah daerah mandat PBB Britania Raya, Palestina. Perang
ini menyebabkan banyak kaum Palestina mengungsi dari daerah Israel. Tetapi di
sisi lain tidak kurang pula kaum Yahudi yang diusir dari negara-negara Arab
lainnya[3].
B. Nasionalisme dan Sosalisme Arab yang
dipimpin oleh Gamal Abdul Nasser
Pada dasarnya nasionalisme Arab adalah mempersatukan
bangsa-bangsa yang berbahasa Arab yang mempunyai kebersamaan kebudayaan, dan
itu bukan persatuan dunia islam. Gerakan ini berpangkal kepada pikiran yang
berpendapat bahwa segala bangsa yang berbahasa Arab, tidak peduli apapun
agamanya pada hakikatnya merupakan suatu bangsa dan sama pula kebudayaannya.
Hazem Zaki Nusaibah mengemukakan bahwa Nasionalisme Arab
bertujuan untuk mempersatukan bangsa-bangsa yang berbahasa Arab dalam satu
organisasi politik. Nasionalisme Arab adalah gerakan sekuler, yang ditentukan
oleh beberapa faktor bahasa, faktor-faktor tradisi sejarah, dan faktor kesamaan
kepentingan[4].
Jadi Nasionalisme Arab merupakan persatuan bangsa-bangsa yang berbahasa arab
yang ditentukan oleh faktor bahasa, tradisisejarah dan kesamaan kepentingan.
Tentang perang agama, Fuad al Ahwani menjelaskan bahwa
nasionalisme Arab tidak mengingkari dan tidak menolak agama-agama bahkan
menghormatinya. Kewajiban orang yang beragama Islam untuk menyembah Tuhannya di
mesjid, demikian pula orang Arab Masehi yang menyembah Tuhannya di Gereja.
Tetapi keduanya wajib membina nasionalisme Arab dan bekerjasama untuk
kemaslatan bangsa Arab. Bahkan lebih dari itu dinyatakan bahwa faktor agama
hendaklah dikesampingkan apabilah menghalangi Nasionalisme Arab[5].
Ide Nasionalisme yang tidak memandang faktor Agama ini ditentang oleh kalangan
Islam.
Selanjudnya pengertian Nasionalisme inilah yang digunakan
oleh Jamal Abdul Nashir untuk memobilisasi rakyat mesir dalam melepas diri
dalam kolonis dan rezim lama yang berdasarkan aristokrasi.
Selanjudnya fase-fase Nasionalisme Arab diungkapkan
bahwa, sejak kontak pertama dengan dunia Barat yaitu masuknya Napoleon pada tahun 1798 ke Mesir dengan
membawa paham demokrasi, persamaan dan ide kebangsaan. Maka dari situlah membuka
mata Arab dari tidurnya yang sangat lama, dan para raja, para pemuka islam
mulai memikirkan bagaimana meningkatkan mutu dan kekuatan umat islam kembali.
Sejak mulai kontak dengan dunia Barat ada lima fase
perkembangan Nasionalisme yang terjadi yaitu :
1. Fase
pertama, timbulnya reaksi Arab Islam terhadap ekspansi Eropa, pada fase ini
cetusan keagamaan lebih menentukan dari pada sentimen kebangsaan.
2. Fase kedua,
timbulnya kecendrungan bagi terbentunya golongan Arab Islam, Hal ini lahir
akibat ketidak mampuan Turki Usmani memprtahankan daerah-daerah Arab.
3. Fase ketiga,
timbulnya reaksi Arab terhadap gerakan Nasionalisme yang lahir di Turki.
4. Fase
keempat, merupakan persenyawaan nasionalisme Arab Islam dan Arab Kristen.
5. Fase kelima,
gerakan Nasionalisme Arab menjadi suatu gerakan rakyat dan menjadi suatu tenaga
yang hidup dihati nurani rakyat.
Pada fase
kelima, nampaknya nasionalisme Arab bukan lagi sebagai gagasan tetapi sudah
menjadi gerakan yang bertujuan melepaskan diri dari segala bentuk penjajahan,
penindasan dan kesewenangan. Nasionalisme Arab yang dibawah oleh Jamal Abdul
Nashir mempunyai cakupan yang sangat luas yaitu seluruh bangsa Arab.
Dalam upaya
mempopulerkan nasionalisme Arab dikalangan bangsa Arab, Jamal Abdul Nashir
melakukan beberapa kegiatan diantara lain :
1. Kampanye ke
negara-negara Arab, dikirimnya utusan untuk menggalang hubungan biliteral
dengan Mesir serta negara-negara Arab lainnya, misalnya Sudan, Suriah, Libanon,
Arab Saudi, Yordania, Yaman, Iraq, dan Libya.
2.
Bersama dengan Suriah membangun Republik Persatuan Arab
pada tahun 1958 dan Jamal Abdul Nashir terpilih sebagai persiden pertamanya.
Konfederasi ini berlangsung hingga tahun 1961 karena suriah menarik diri
kembali. Hal ini yang sama terjadi pada Yaman 8 Maret 1958 yang bergabung dengan
Republik Persatuan Arab, akan tetapi pada tanggal 26 September 1962 Yaman
menarik diri.
Jamal Abdul
Nashir sudah berhasil menumbangkan pemerintahan Raja Farouq yang didominasi
oleh Inggris dan ini menjadi bukti bahwa ada penolakan Jamal Abdul Nashir terhadap
pengaruh dan penjajahan Eropa. Jamal Abdul Nashir telah berhasil merubah
pemerintahan aristokrasi kepada bentuk Republik. Demikian pula Jamal Abdul
Nashir berhasil menumbuhkan semangat bangsa Arab untuk bersatu mengusir
penjajah.
Pada masa pemerintahannya, Jamal Abdul Nassir membangkitkan Nasionalisme Arab
dan Pan Arabisme, menasionalisasi Terusan Suez yang mengakibatkan krisis Suez
yang membuat Mesir berhadapan dengan Perancis, Inggris dan Israel yang memiliki
kepentingan terhadap terusan itu. Krisis ini berakhir dengan keputusan dunia
Internasional yang menguntungkan Mesir serta Terusan Suez resmi berada dalam
kedaulatan Mesir.Kemudian Gamal mengadakan proyek infrastruktur besar-besaran
diantaranya adalah proyek Bendungan Aswan dengan bantuan pemerintah Uni
Soviet.Setelah kalah dalam Perang Enam Hari dengan Israel pada tahun 1967, Jamal
Abdul Nassiringin menarik diri dari dunia politik tetapi rakyat Mesir
menolaknya.Jamal Abdul Nassirsekali lagi memimpin Mesir dalam Peperangan
1969-1970 (War of Atrition). Jamal
Abdul Nassirmeninggal akibat penyakit jantung dua minggu setelah peperangan
usai pada 28 September 1970. Jamal
Abdul Nassirdigantikan oleh Anwar
Sadat.
Nasionalisme
Arab hampir berhasil mendirikan imperium atau konfedarasi yang sangat besar
yang mencakup negara-negara Arab. Keinginan Jamal Abdul Nashir untuk memimpin
semua bangsa Arab mulai berantakan dan itu ditandai oleh kekalahannya pada
perang Arab-Israel pada tahun 1967. Nasionalismenya tidak menghasilkan
solidaritas dan persatuan Arab dan tidak mampu keanekaragaman kepentingan para
pemimpin dan masyarakat Arab yang selalu bersaing[6].
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Jamal Abdul
Nassir (Arab:جمال عبد الناصر) lahir pada Tanggal 15 Januari 1918. Jamal Abdul Nassirdilahirkan di Banny Mor Asyout, Iskandariah (Alexandria), Mesir. Jamal Abdul Nassir tinggal
selama 8 tahun di Banny Mor Asyout. Beliau
mempelajari tradisi Mesir Selatan yang ketat dan murah hati tersebut. Beliau
pindah ke kota syout ke Alexandria kemudian ke Kairo. Jamal
Abdul Nassirmerupakan orang asli berkebangsaan Mesir. Beliau
berpindah-pindah tempat
tinggal adalah karena pekerjaan ayahnya sebagai ketua dalam pelayanan Pos.Ibunya meninggal pada 1926. Gamal menghabiskan 10 tahun di Kairosampai ia menerima ijazah SMA-nya dari sekolah "Nahda" pada tahun 1937.
Pada masa pemerintahannya, Jamal Abdul Nassir membangkitkan Nasionalisme Arab
dan Pan Arabisme, menasionalisasi Terusan Suez yang mengakibatkan krisis Suez
yang membuat Mesir berhadapan dengan Perancis, Inggris dan Israel yang memiliki
kepentingan terhadap terusan itu. Krisis ini berakhir dengan keputusan dunia
Internasional yang menguntungkan Mesir serta Terusan Suez resmi berada dalam
kedaulatan Mesir.Kemudian Gamal mengadakan proyek infrastruktur besar-besaran
diantaranya adalah proyek Bendungan Aswan dengan bantuan pemerintah Uni
Soviet.Setelah kalah dalam Perang Enam Hari dengan Israel pada tahun 1967, Jamal
Abdul Nassiringin menarik diri dari dunia politik tetapi rakyat Mesir
menolaknya. Jamal Abdul Nassirsekali lagi
memimpin Mesir dalam Peperangan 1969-1970 (War of Atrition). Jamal Abdul Nassirmeninggal akibat
penyakit jantung dua minggu setelah peperangan usai pada 28 September 1970. Jamal Abdul Nassirdigantikan oleh Anwar Sadat.
B. KRITIK dan SARAN
Disadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, didalamnya
terdapat banyak kesalahan, kekeliruan dan kekurangan oleh karena itu sangat
diharapkan kritik dan saran dari teman-teman sekalian untuk membuat makalah ini
kearah yang lebih baik dari sebelumnya. Adapun saran, semoga tulisan ini dapat
dijadihkan pelajaran dan bermanfaat bagi pembacanya.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Gamal_Abdul_Nasir http://www2.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/kal_sejarah/masehi/ Mei/.htm,
[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Gamal_Abdul_Nasir diakses pada Tanggal 14 Mei 2015
Pukul 21:01 WIB.
[2] http://www.famousmuslims.com/Gamal%20Abdul%20Nasser.htm diakses pada Tanggal 16 Mei 2015 Pukul 21:12 WIB.
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Arab-Israel_1948 diakses pada Tanggal 15 Mei 2015 Pukul 19:59 WIB
[4]
http://id.wikipedia.org/wiki/Gamal_Abdul_Nasir diakses pada tanggal 16 Mei 2015 Pukul 20 : 00 WIB
[5] http://www2.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/kal_sejarah/masehi/ Mei/.htm,
diakses tanggal 15 Mei
2015, Pukul 20 :
15 WIB
[6] http://www_Jamal_Abd_Nasier(NasionalismeArab),
diakse pada tanggal 16 Mei 2015, Pukul 21 : 32 WIB.

0 komentar:
Posting Komentar